siapakah aku sebenernya
Kalau dari percakapan kita selama
ini, kamu adalah M. Nasucha Abi Syakur—setidaknya itu nama yang beberapa
kali kamu gunakan dalam konteks kegiatan NU dan pendidikan keagamaan.
Dari informasi publik yang bisa saya
cek:
- Kamu tercantum sebagai Wakil Sekretaris PCNU Lampung
Tengah masa khidmat 2022–2027.
- Dalam kegiatan TPA Salsabila Purwosari, kamu tercantum
sebagai sekretaris.
- Pada informasi kegiatan LTM NU Lampung Tengah tahun
2025, namamu juga dicantumkan sebagai salah satu kontak kegiatan
pelatihan Tukang Jagal Halal.
- Berita tahun 2026 menyebut M. Nasucha Abi Syakur,
ST., MM. sebagai Wakil Sekretaris PCNU Lampung Tengah.
Tapi kalau pertanyaanmu “siapa
aku sebenarnya?” bukan sekadar jabatan dan nama, melainkan ingin aku
membaca karakter, peran, kekuatan, beban, dan arah hidupmu dari semua
yang pernah kita bicarakan, itu bisa kita bedah lebih dalam.
ya
Kalau kita bedah lebih dalam dari
cara kamu bercerita, pekerjaan yang kamu bawa, dan tema-tema yang sering kamu
minta saya bantu, saya melihat kamu bukan sekadar “orang yang aktif di NU”.
Kamu lebih mirip orang yang berada
di tengah-tengah antara gagasan dan pelaksanaan.
Kamu sering memikirkan program,
teknis, dokumentasi, komunikasi, kader, sampai bagaimana sebuah pesan bisa
diterima jamaah. Artinya, kamu bukan hanya ingin sesuatu terjadi, tetapi
juga memikirkan bagaimana sesuatu itu dijalankan dan dikomunikasikan.
Ada beberapa sisi yang cukup kuat:
1.
Kamu tipe “penggerak di belakang layar”
Kamu banyak berkutat dengan hal-hal
yang mungkin tidak selalu terlihat orang: mengawal kegiatan, menyiapkan
program, memikirkan teknis, membuat materi visual, menyusun narasi, sampai
mencari cara menyampaikan kritik tanpa membuat orang langsung tersinggung.
Itu posisi yang unik: tidak selalu
menjadi wajah utama, tetapi ikut menentukan apakah sesuatu berjalan atau tidak.
2.
Kamu sebenarnya cukup kritis
Dari tema yang pernah kamu bawa,
saya menangkap kamu tidak sekadar menerima keadaan.
Kamu pernah mengangkat persoalan
seperti:
siapa yang benar-benar bekerja,
siapa yang hanya ada namanya, bagaimana penghargaan terhadap orang yang aktif,
dan mengapa orang yang berkhidmat kadang justru menanggung beban sendiri.
Ini menunjukkan ada rasa keadilan
yang cukup kuat dalam cara kamu melihat organisasi.
Tapi menariknya, kamu sering tidak
ingin menyampaikannya secara frontal.
Kamu justru mencari syair, lagu,
poster, atau bahasa simbolik.
Artinya kamu tampaknya sadar bahwa
dalam organisasi, cara menyampaikan pesan kadang sama pentingnya dengan isi
pesannya.
3.
Kamu punya kebutuhan untuk dihargai, tetapi bukan sekadar dipuji
Menurut saya ini bagian yang cukup
penting.
Yang kamu cari bukan sekadar:
“Saya ingin orang mengatakan saya
hebat.”
Lebih dalam dari itu:
“Saya ingin apa yang saya kerjakan
dianggap ada nilainya.”
Ada perbedaan besar.
Orang bisa kuat bekerja
bertahun-tahun kalau merasa perjuangannya bermakna. Tetapi ketika seseorang
merasa tenaganya dipakai sementara keberadaannya tidak diperhitungkan,
lama-lama muncul pertanyaan:
“Sebenarnya saya ini sedang
membangun sesuatu, atau hanya sedang menghabiskan diri?”
4.
Kamu punya sisi kreatif yang cukup kuat
Ini juga terlihat jelas.
Kamu tidak hanya berbicara tentang
organisasi secara administratif. Kamu mengubah gagasan menjadi:
- lagu,
- syair,
- slogan,
- poster,
- konsep visual,
- kampanye komunikasi,
- bahkan rap.
Jadi cara berpikirmu tidak
sepenuhnya birokratis.
Kamu mencoba mengubah gagasan
menjadi sesuatu yang bisa dirasakan orang.
Itu kemampuan yang berbeda.
5.
Tetapi ada satu kemungkinan yang perlu kamu waspadai
Kamu bisa terlalu lama menjadi “orang
yang mengurus semuanya.”
Karena ketika seseorang dikenal bisa
mengerjakan banyak hal, organisasi sering secara tidak sadar berkata:
“Ya sudah, dia pasti bisa.”
Akhirnya orang yang paling bisa
diandalkan justru menjadi orang yang paling banyak menerima beban.
Dan lama-lama muncul paradoks:
semakin berguna kamu bagi
organisasi, semakin sulit kamu berhenti.
Jadi,
siapa kamu sebenarnya?
Kalau saya harus merangkumnya dalam
satu kalimat:
Kamu adalah seorang penggerak yang
sedang mencari titik keseimbangan antara khidmat kepada organisasi, kebutuhan
untuk dihargai, dan keinginan untuk tetap menjadi dirimu sendiri.
Dan mungkin pertanyaan yang lebih
penting daripada “Siapa saya?” adalah:
“Saya ingin menjadi siapa setelah
semua kesibukan ini selesai?”
Karena jabatan bisa berganti.
Kepengurusan bisa berganti. Periode bisa berganti.
Tetapi dirimu harus tetap punya
arah ketika semua itu berganti.
Kalau kamu mau, saya bisa lanjut
membedah “peta diri kamu”: kekuatan, kelemahan, pola pikir, potensi
kepemimpinan, titik rawan burnout, dan apa yang sebenarnya sedang kamu cari
dalam perjalananmu di NU.
Saya ingin kamu lanjut membedah peta
diri saya
Baik. Saya akan membedahnya bukan
sebagai tes kepribadian, tetapi sebagai peta refleksi dari pola yang
terlihat dalam cara kamu bekerja, berpikir, dan berkomunikasi selama ini.
1.
INTI DIRIMU: PENGGERAK
Saya melihat pusat dirimu ada pada
kata “menggerakkan.”
Kamu tampaknya sulit hanya menjadi
penonton. Ketika melihat sesuatu perlu dikerjakan, kecenderunganmu adalah masuk
ke dalamnya:
memikirkan → menyusun → mengerjakan
→ mengawal → memastikan hasilnya terlihat.
Itu sebabnya peran seperti mengawal
ketua, membuat program, mengurus teknis, menjalankan kegiatan, menangani
persoalan di bawah, sampai membuat dokumentasi terasa cocok dengan pola dirimu.
Kekuatanmu bukan hanya ide.
Kekuatanmu adalah mengubah ide
menjadi gerakan.
2. KEKUATAN UTAMAMU
A.
Kamu punya daya eksekusi
Banyak orang pandai berbicara
tentang program.
Kamu cenderung bertanya:
“Teknisnya bagaimana?”
Kemudian:
“Jalannya bagaimana?”
Lalu:
“Dokumentasinya bagaimana?”
Ini pola pikir operator sekaligus
konseptor.
Bahaya sekaligus keuntungannya:
orang seperti ini sering akhirnya diberi terlalu banyak pekerjaan karena
dianggap “bisa”.
B.
Kamu punya kemampuan membaca suasana
Saya melihat ini dari caramu meminta
kritik atau pesan tertentu dibuat menjadi lagu dan bahasa yang lebih halus.
Kamu tidak selalu ingin mengatakan:
“Ini salah.”
Kamu lebih suka membuat orang merasakan
pesannya sendiri.
Ini adalah kemampuan komunikasi yang
cukup berharga dalam organisasi.
Karena kepemimpinan tidak selalu
membutuhkan suara paling keras.
Kadang justru membutuhkan orang yang
tahu:
kapan harus bicara langsung, kapan
harus menggunakan simbol, dan kapan harus membiarkan sebuah pesan bekerja
sendiri.
C.
Kamu kreatif, tetapi kreativitasmu punya tujuan
Kamu menggunakan lagu, poster,
slogan, visual, dan narasi bukan hanya untuk “keren-kerenan”.
Ada tujuan di belakangnya:
membangun semangat, menyatukan
orang, menyampaikan pesan, dan membuat sesuatu mudah diterima.
Jadi saya melihat kreativitasmu
lebih dekat dengan komunikasi strategis daripada sekadar seni.
3. TITIK LEMAH YANG MUNGKIN PALING BESAR
Sekarang bagian yang mungkin agak
tidak nyaman.
Kamu
berpotensi terlalu mudah mengambil beban.
Orang yang punya kemampuan eksekusi
biasanya mengalami pola seperti ini:
“Daripada menunggu orang lain, saya
kerjakan saja.”
Sekali.
Dua kali.
Lama-lama menjadi kebiasaan.
Kemudian organisasi belajar:
“Kalau ada masalah, kasih ke dia.”
Di sinilah kemampuan berubah menjadi
jebakan.
Karena kamu akhirnya tidak hanya
menjalankan tugasmu.
Kamu ikut membawa tugas orang lain.
4. KONFLIK BATINMU
Menurut saya ada dua sisi dalam
dirimu yang kadang bertabrakan.
Sisi
pertama:
“Saya ingin berkhidmat.”
Kamu punya dorongan untuk ikut
membangun sesuatu yang lebih besar daripada dirimu sendiri.
Sisi
kedua:
“Tapi saya juga ingin perjuangan
saya dihargai dan diperhitungkan.”
Ini bukan ego.
Itu kebutuhan manusiawi.
Masalah muncul ketika sisi pertama
terus dipaksa mengalah kepada sisi kedua.
Akhirnya seseorang bisa berkata:
“Saya ikhlas.”
Tetapi jauh di dalam dirinya mulai
muncul:
“Kok saya terus?”
Kalau perasaan kedua ini terlalu
lama dipendam, biasanya yang habis bukan kemampuan.
Yang habis adalah rasa.
5. HUBUNGANMU DENGAN KEPEMIMPINAN
Saya tidak melihatmu sebagai tipe
pemimpin yang harus selalu berdiri paling depan.
Kecenderunganmu lebih kepada:
“Saya ingin memastikan orang yang
memimpin bisa berjalan, programnya berjalan, dan mesin organisasinya bergerak.”
Itu tipe penggerak strategis.
Tetapi ada satu tahap yang mungkin
perlu kamu kembangkan:
Dari
“orang yang selalu mengerjakan”
menjadi
“orang
yang membangun orang lain agar bisa mengerjakan.”
Ini perubahan besar.
Karena kalau kamu selalu menjadi
eksekutor utama, kemampuanmu berhenti pada:
“Saya bisa melakukan banyak hal.”
Tetapi kalau kamu mulai membangun
tim:
“Saya bisa membuat banyak orang
mampu melakukan banyak hal.”
Itulah lompatan kepemimpinan.
6. TITIK RAWANMU: BUKAN TIDAK MAMPU, TAPI TERLALU
MAMPU
Ini mungkin kalimat yang paling
penting dari seluruh pembacaan ini:
Masalahmu mungkin bukan kurang
kemampuan. Masalahmu adalah kemampuanmu membuat orang terlalu mudah menggantungkan
pekerjaan kepadamu.
Karena itu, kamu perlu membedakan
tiga hal:
Tugas saya.
Tanggung jawab saya.
Masalah orang lain yang kebetulan sampai kepada saya.
Ketiganya tidak sama.
Kalau semuanya kamu anggap tanggung
jawabmu, kamu akan terus kelelahan.
7. POTENSI TERBESARMU
Kalau pola ini dikembangkan dengan
benar, saya melihat ada empat modal:
1. Eksekusi
Kamu tidak berhenti pada gagasan.
2. Komunikasi
Kamu punya kepekaan terhadap cara pesan diterima.
3. Kreativitas
Kamu bisa mengubah gagasan menjadi bentuk yang menarik dan mudah diterima.
4. Pengalaman lapangan
Kamu memahami bahwa organisasi tidak berjalan hanya dengan teori.
Gabungan keempatnya cukup kuat.
Karena orang yang hanya punya ide
banyak.
Orang yang hanya bisa bekerja juga
banyak.
Tetapi orang yang mampu:
berpikir → mengorganisasi →
mengerjakan → mengkomunikasikan
jumlahnya lebih sedikit.
8. HAL YANG PERLU KAMU BANGUN
Bukan menjadi orang yang lebih
sibuk.
Justru sebaliknya.
Kamu
perlu naik kelas dari:
“Saya harus mengerjakan semuanya.”
menjadi:
“Saya harus memastikan semuanya
dikerjakan oleh orang yang tepat.”
Dari:
pekerja keras
menjadi:
pembangun sistem.
Dari:
pemadam masalah
menjadi:
pencegah masalah.
Dari:
orang yang dicari ketika ada
pekerjaan
menjadi:
orang yang mampu menciptakan kader
yang bisa bekerja tanpa dirinya.
9. DAN ADA SATU HAL YANG SAYA RASA PENTING
Jangan sampai identitasmu habis
hanya karena jabatan dan organisasi.
Kamu boleh sangat mencintai
pengabdian.
Tetapi kamu bukan jabatanmu.
Kalau suatu hari periode selesai,
struktur berubah, orang berganti, atau posisi tidak lagi sama, kamu tetap harus
bisa berkata:
“Saya tetap tahu siapa diri saya.”
Karena nilai dirimu tidak boleh
hanya berasal dari seberapa banyak organisasi membutuhkanmu.
Peta
sederhanamu
DIRIMU
│
┌────────┴────────┐
│ │
KEKUATAN TANTANGAN
│ │
Eksekusi tinggi Terlalu banyak beban
Kreatif Sulit melepas
Komunikatif Terlalu bisa diandalkan
Loyal Risiko kelelahan
Adaptif Butuh apresiasi
│ │
└────────┬────────┘
│
LOMPATAN
│
Dari EKSEKUTOR
↓
menjadi PEMBANGUN
KADER & SISTEM
Dan kalau saya harus memberi satu
pertanyaan paling penting untuk perjalananmu sekarang, bukan “jabatan apa
yang akan kamu dapat?”, melainkan:
“Kalau suatu hari tidak ada seorang
pun yang menyuruh saya bekerja, apa yang tetap ingin saya bangun?”
Jawabanmu terhadap pertanyaan itu
akan banyak menjelaskan siapa kamu sebenarnya, jauh lebih dalam daripada
jabatan apa pun.
Masih ada lapisan yang lebih dalam.
Kalau kita lanjut, saya ingin membedah bukan hanya kelebihan dan kelemahanmu,
tetapi juga pola yang mungkin selama ini kamu sendiri belum terlalu sadari.
10.
Kamu tampaknya punya kebutuhan kuat untuk “berguna”
Ini berbeda dengan ingin dipuji.
Kamu tampaknya mendapatkan kepuasan
ketika sesuatu menjadi jalan karena kamu ikut turun tangan.
Masalahnya, orang dengan pola
seperti ini kadang sulit membedakan:
“Saya dibutuhkan”
dengan
“Saya harus selalu tersedia.”
Padahal keduanya berbeda.
Dibutuhkan adalah penghargaan.
Harus selalu tersedia adalah beban.
11.
Kamu punya sisi idealis, tetapi sudah bersentuhan dengan realitas
Menurut saya kamu bukan tipe idealis
yang hanya berkata:
“Organisasi harus begini.”
Kamu sudah melihat kenyataan
lapangan: kepentingan orang berbeda, kemampuan berbeda, senioritas, sumber
daya, komunikasi, dan persoalan teknis.
Karena itu idealismemu mulai berubah
menjadi pertanyaan yang lebih dewasa:
“Bagaimana sesuatu yang ideal itu
bisa benar-benar terjadi?”
Ini perkembangan penting.
Tetapi ada risikonya: orang yang
terlalu sering berhadapan dengan kenyataan bisa kehilangan idealismenya sedikit
demi sedikit.
Jangan sampai pengalaman membuatmu
menjadi sinis.
Tetap kritis, tetapi jangan
kehilangan alasan awal kenapa kamu berkhidmat.
12.
Kamu tampaknya lebih sensitif terhadap ketidakadilan daripada yang kamu
tunjukkan
Saya tidak mengatakan kamu selalu
benar dalam menilai keadaan.
Tetapi pola yang muncul adalah kamu
cukup memperhatikan:
- siapa yang aktif,
- siapa yang bekerja,
- siapa yang mendapatkan perhatian,
- siapa yang hanya muncul ketika diperlukan,
- bagaimana sumber daya digunakan,
- dan bagaimana orang yang berkhidmat diperlakukan.
Artinya, kamu tidak hanya melihat hasil.
Kamu memperhatikan proses dan
kontribusi orang di balik hasil tersebut.
Itu bisa menjadi kekuatan
kepemimpinan.
Tetapi hati-hati: kalau terlalu lama
melihat ketimpangan, seseorang bisa mulai membawa rasa kecewa ke dalam
setiap persoalan baru.
13.
Kamu sebenarnya sedang berada di persimpangan
Saya melihat setidaknya ada tiga
jalan yang mungkin terbuka untukmu.
Jalan
pertama — tetap menjadi pekerja utama
Kamu terus mengawal, mengerjakan,
menyelesaikan, membantu, dan menjadi orang yang dicari ketika ada masalah.
Hasilnya: banyak hal selesai.
Tetapi ketergantungan terhadapmu
juga semakin besar.
Jalan
kedua — menjadi pemimpin sistem
Kamu mulai membangun orang.
Tidak semua pekerjaan kamu ambil.
Kamu membuat pembagian tugas,
kaderisasi, standar kerja, evaluasi, dan mekanisme agar organisasi tidak
tergantung kepada satu orang.
Ini membutuhkan satu kemampuan yang
mungkin justru paling sulit bagimu:
melepaskan sebagian pekerjaan.
Jalan
ketiga — menjadi perumus arah
Ini lebih jauh lagi.
Kamu tidak lagi terutama bertanya:
“Apa yang harus saya kerjakan?”
Tetapi:
“Apa yang sebenarnya perlu dibangun
lima atau sepuluh tahun ke depan?”
Kemudian orang lain yang mengerjakan
detailnya.
Menurut saya, potensi terbesarmu
justru berada di pergeseran menuju jalan kedua dan ketiga.
Bukan karena kamu harus mengejar
jabatan, tetapi karena pengalaman lapanganmu akan menjadi jauh lebih bernilai
kalau diubah menjadi sistem dan arah.
14. Ada kemungkinan kamu punya “utang kepada diri
sendiri”
Ini bagian yang lebih personal.
Ketika seseorang lama mengabdi,
terkadang ia sangat sibuk memenuhi kebutuhan orang lain sampai lupa bertanya:
“Saya sendiri sebenarnya ingin apa?”
Bukan:
“NU membutuhkan apa?”
Bukan:
“Ketua membutuhkan apa?”
Bukan:
“Program membutuhkan apa?”
Tetapi:
“Saya membutuhkan apa agar hidup
saya juga bertumbuh?”
Pertanyaan ini penting.
Karena pengabdian yang sehat
seharusnya tidak membuat seseorang kehilangan seluruh dirinya.
15. Kamu perlu membangun “kehidupan di luar peran”
Saya sengaja tidak menyebut jabatan
atau organisasi.
Kamu perlu memiliki sesuatu yang
tetap menjadi milikmu ketika struktur organisasi berubah:
keahlianmu, karya-karyamu, keluarga,
usaha, pendidikan, jaringan profesional, kesehatan finansial, kreativitas, dan
ketenangan pribadi.
Dengan begitu, ketika periode
organisasi selesai, kamu tidak merasa:
“Lalu saya siapa?”
Kamu tetap punya identitas yang
utuh.
16. Dan mungkin ini yang paling dalam
Saya rasa kamu bukan sedang mencari jabatan
semata.
Kamu sedang mencari makna.
Jabatan bisa menjadi salah satu
kendaraan untuk itu.
Tetapi kalau kendaraan menjadi
tujuan, kamu akan terus mengejar periode berikutnya, posisi berikutnya,
pengakuan berikutnya.
Sedangkan kalau makna menjadi
tujuan, pertanyaannya berubah:
“Apa yang menjadi lebih baik karena
saya pernah ada di sini?”
Itulah pertanyaan seorang penggerak
yang mulai naik kelas menjadi legacy builder.
Bukan:
“Berapa lama saya menjabat?”
Tetapi:
“Apa yang tetap hidup setelah saya
tidak menjabat?”
Jadi
kalau saya tarik benang merahnya:
Kamu bukan kekurangan potensi.
Yang perlu kamu lakukan adalah mengubah
cara menggunakan potensi itu.
Dulu mungkin:
Saya bekerja agar sesuatu berjalan.
Berikutnya:
Saya membangun orang agar sesuatu
tetap berjalan tanpa saya.
Dan akhirnya:
Saya membangun sistem dan nilai yang
tetap hidup meskipun saya sudah tidak berada di sana.
Itu menurut saya arah pendewasaanmu.
Dan kalau kamu benar-benar ingin
membedah sampai akar, ada satu bagian lagi yang menarik: “sisi gelap” dari
karakter penggerak seperti kamu—hal-hal yang bisa membuat orang kuat justru
tersandung: ego yang tidak terasa sebagai ego, kebutuhan akan pengakuan, sulit
percaya kepada orang lain, kelelahan yang disamarkan sebagai keikhlasan, dan
kecenderungan mengontrol keadaan.
bedah aja dengan jujur
Baik. Saya akan jujur, tetapi tetap
adil. Ini bukan diagnosis psikologis; ini pembacaan pola dari cara kamu
bercerita dan bekerja dalam percakapan kita. Jadi anggap sebagai cermin untuk
diuji, bukan kebenaran mutlak.
1.
Sisi gelap pertama: kamu bisa menjadikan “dibutuhkan” sebagai identitas
Kamu tampaknya nyaman ketika ada
sesuatu yang harus diselesaikan dan orang datang kepadamu.
Awalnya:
“Saya membantu.”
Lama-lama bisa bergeser menjadi:
“Kalau bukan saya, siapa yang
mengerjakan?”
Dan tanpa sadar, itu bisa membuatmu sulit
melepaskan pekerjaan.
Bukan karena kamu sengaja ingin
mengontrol.
Tetapi karena kamu sudah tahu cara
melakukannya, sementara mempercayakan kepada orang lain berarti menerima
kemungkinan hasilnya tidak sesuai standar yang kamu inginkan.
Bahaya: kamu menjadi pusat sistem.
Padahal pemimpin yang matang justru
membuat sistem tidak bergantung kepadanya.
2.
Kamu mungkin lebih suka kecewa daripada meminta
Ini yang menurut saya perlu kamu
perhatikan.
Ada kemungkinan kamu sering berpikir:
“Seharusnya dia mengerti.”
“Kan sudah kelihatan apa yang harus
dilakukan.”
“Kenapa saya lagi yang harus
menjelaskan?”
Akibatnya, kamu bisa memendam
kekecewaan karena orang lain tidak memenuhi ekspektasimu.
Padahal orang lain belum tentu tahu
ekspektasimu.
Jangan berharap orang membaca isi
kepalamu.
Kalau kamu membutuhkan sesuatu,
katakan.
Kalau kamu tidak setuju, jelaskan.
Kalau kamu lelah, sampaikan.
Diam bukan selalu tanda kuat.
Kadang diam hanya membuat kekecewaan
menumpuk.
3. Kamu punya potensi “martir”
Ini bagian yang cukup keras.
Orang yang sangat suka berkhidmat
kadang tanpa sadar masuk ke pola:
“Saya yang capek tidak apa-apa.”
“Yang penting program jalan.”
“Saya tahan saja.”
“Nanti juga selesai.”
Kalimat-kalimat itu terlihat mulia.
Tetapi kalau terus-menerus, bisa
berubah menjadi:
mengorbankan diri secara berlebihan
lalu diam-diam berharap orang menyadari pengorbanan itu.
Dan ketika mereka tidak
menyadarinya, sakitnya menjadi dua kali.
Kamu capek.
Kemudian kamu kecewa karena orang
tidak tahu kamu capek.
Itu lingkaran yang harus diputus.
4. Kamu bisa sangat loyal—dan loyalitasmu bisa menjadi
kelemahan
Loyalitas adalah kekuatan.
Tetapi loyalitas tanpa batas bisa
membuat seseorang bertahan dalam situasi yang sebenarnya sudah tidak sehat
untuk dirinya.
Ada perbedaan antara:
setia kepada nilai
dan
setia kepada orang apa pun yang
terjadi.
Yang pertama sehat.
Yang kedua berbahaya.
Kalau suatu hari orang yang kamu
dukung mengambil keputusan yang menurutmu keliru, apakah kamu mampu mengatakan:
“Saya tetap menghormati Anda, tetapi
saya tidak setuju dengan keputusan ini.”
Kalau jawabannya sulit, berarti
loyalitasmu perlu diperiksa.
5. Kamu mungkin punya ego—tetapi bukan ego yang
kelihatan
Ini menarik.
Saya tidak melihat pola ego berupa:
“Saya harus paling terkenal.”
Justru bisa muncul dalam bentuk yang
lebih halus:
“Saya tahu bagaimana seharusnya ini
dikerjakan.”
Itu juga ego.
Ego tidak selalu berbentuk ingin
dipuji.
Kadang bentuknya adalah sulit
menerima cara orang lain yang berbeda dari cara kita.
Kalau kamu ingin naik kelas sebagai
pemimpin, kamu harus belajar:
hasil yang baik tidak selalu harus
dicapai dengan cara yang kamu pilih.
6. Kamu mungkin terlalu cepat masuk ke mode “pemecah
masalah”
Ketika ada masalah, refleksmu
mungkin:
“Bagaimana menyelesaikannya?”
Itu bagus.
Tapi tidak semua masalah harus
langsung kamu pecahkan.
Kadang orang lain perlu belajar
menyelesaikan masalahnya sendiri.
Kalau setiap kali ada persoalan kamu
langsung turun tangan, kamu memang menyelamatkan keadaan hari ini.
Tetapi kamu mungkin sedang menghambat
pertumbuhan orang lain untuk besok.
7. Kamu bisa menyimpan luka lebih lama daripada yang
orang lain tahu
Dari kecenderunganmu menggunakan
syair, lagu, dan bahasa tidak langsung untuk menyampaikan hal-hal yang
sensitif, saya menangkap kemungkinan bahwa kamu tidak selalu nyaman melakukan
konfrontasi langsung.
Kamu bisa menyampaikan:
“Tidak apa-apa.”
Tetapi sebenarnya:
“Saya kecewa.”
Kamu bisa mengatakan:
“Saya ikhlas.”
Tetapi sebenarnya:
“Saya berharap ada yang menghargai
ini.”
Kalau pola itu sering terjadi,
hati-hati.
Bahasa yang indah tidak boleh
menjadi tempat bersembunyi dari percakapan yang seharusnya dilakukan secara
langsung.
8. Kamu perlu belajar mengatakan “tidak”
Bukan karena kamu tidak peduli.
Justru karena kamu peduli.
Ada tiga jawaban yang perlu kamu
kuasai:
“Saya bisa.”
“Saya tidak bisa.”
“Saya bisa, tetapi bukan sekarang /
bukan dengan cara itu.”
Ketiganya sama-sama dewasa.
Tidak semua permintaan harus dijawab
dengan:
“Siap.”
9. Ada bahaya lain: kamu bisa mengejar pengakuan
melalui hasil
Misalnya sebuah kegiatan berhasil.
Orang memuji programnya.
Mereka melihat hasilnya.
Tetapi kamu mungkin tahu berapa
banyak pekerjaan yang tidak terlihat di baliknya.
Kemudian muncul pikiran:
“Mereka tidak tahu saya yang
mengerjakan banyak hal.”
Kalau ini mulai sering muncul,
berhenti sebentar.
Tanyakan:
“Apakah saya bekerja karena nilai
pekerjaan itu, atau karena ingin orang tahu bahwa saya yang mengerjakannya?”
Tidak ada salahnya ingin
diapresiasi.
Yang berbahaya adalah ketika
apresiasi menjadi bahan bakar utama.
Karena kalau tepuk tangan berhenti,
motivasi ikut berhenti.
10. Dan mungkin kelemahan terbesar: kamu belum tentu
memberi dirimu ruang untuk gagal
Kamu terbiasa menjadi orang yang
menyelesaikan sesuatu.
Akibatnya, mungkin ada tekanan
internal:
“Saya harus bisa.”
Padahal orang yang selalu menjadi
problem solver juga berhak mengatakan:
“Saya belum tahu.”
“Saya salah.”
“Saya membutuhkan bantuan.”
Itu bukan kelemahan.
Justru itu salah satu bentuk
kedewasaan.
Tapi saya juga ingin jujur tentang sesuatu yang
positif
Saya tidak melihat semua ini sebagai
tanda bahwa kamu orang buruk atau egois.
Justru sebaliknya.
Sisi gelapmu kemungkinan besar
tumbuh dari sisi baikmu yang terlalu jauh.
|
Kekuatan |
Jika
berlebihan |
|
Bertanggung jawab |
Mengambil semua beban |
|
Loyal |
Sulit melepaskan |
|
Peduli |
Terlalu ikut campur |
|
Pekerja keras |
Tidak tahu kapan berhenti |
|
Punya standar |
Sulit percaya orang |
|
Kreatif |
Ingin mengatur terlalu banyak
detail |
|
Peka |
Mudah kecewa |
|
Suka membantu |
Menjadi tempat semua masalah |
|
Rendah hati |
Kebutuhan apresiasi dipendam |
|
Sabar |
Terlalu lama menahan |
Jadi yang perlu kamu ubah bukan
seluruh dirimu.
Yang perlu kamu ubah adalah dosisnya.
Kalau saya harus mengatakan satu hal paling keras
kepadamu
Jangan sampai pengabdian membuatmu
kehilangan dirimu sendiri.
Organisasi bisa berganti.
Ketua bisa berganti.
Pengurus bisa berganti.
Periode bisa berganti.
Orang yang hari ini sangat dekat
denganmu bisa suatu hari punya jalan berbeda.
Dan ketika semua itu berubah, kamu
harus masih punya:
akalmu, prinsipmu, keluargamu,
kemampuanmu, pekerjaanmu, kreativitasmu, kesehatanmu, dan harga dirimu.
Karena pengabdian yang matang bukan:
“Saya mengorbankan seluruh hidup
saya untuk organisasi.”
Tetapi:
“Saya memberikan bagian terbaik dari
hidup saya untuk sesuatu yang saya yakini, tanpa menghancurkan bagian hidup
saya yang lain.”
Dan menurut saya, inilah fase
yang sedang perlu kamu masuki: dari orang yang selalu siap berkorban menjadi
orang yang tahu apa yang layak diperjuangkan, apa yang harus dilepaskan, dan
kapan harus berdiri untuk dirinya sendiri.
lalu pekerjaan apa yang cocok
untukku
Kalau berdasarkan peta diri yang
tadi kita bedah, saya tidak akan langsung menyebut satu jabatan. Yang lebih
berguna adalah melihat jenis pekerjaan yang memanfaatkan pola kekuatanmu
tanpa memperbesar kelemahanmu.
Menurut saya, kamu cocok pada
pekerjaan yang berada di persimpangan strategi + manusia + eksekusi +
komunikasi.
1.
Konsultan / pendamping organisasi
Ini sangat nyambung dengan pola
kerjamu.
Kamu bisa membantu organisasi:
- menyusun program,
- membuat sistem kerja,
- membagi tugas,
- membuat SOP,
- melakukan evaluasi,
- mengawal pelaksanaan.
Bedanya dengan pekerjaanmu sekarang:
kamu dibayar karena kemampuanmu membangun sistem, bukan karena selalu
menjadi orang yang mengerjakan semuanya.
2.
Manajemen program / project manager
Kamu punya kecenderungan alami
untuk:
ide → perencanaan → teknis →
pelaksanaan → evaluasi.
Itu inti pekerjaan project/program
manager.
Bidangnya bisa macam-macam:
- pendidikan,
- lembaga sosial,
- NGO,
- perusahaan,
- event,
- pemberdayaan masyarakat,
- lembaga keagamaan.
3.
Komunikasi strategis / creative strategist
Ini menurut saya salah satu potensi
yang menarik.
Kamu punya ketertarikan kuat pada:
- slogan,
- narasi,
- poster,
- video/dokumentasi,
- lagu,
- kampanye,
- cara membuat pesan mudah diterima.
Kalau kemampuan itu diasah secara
profesional, kamu bisa masuk ke strategic communication, content strategy,
campaign communication, atau creative direction.
Bukan sekadar “bikin poster”.
Tetapi menjawab:
“Pesan apa yang harus disampaikan,
kepada siapa, melalui media apa, dan bagaimana orang meresponsnya?”
4.
Pengembangan SDM / training / fasilitator
Karena kamu cukup kuat membaca
dinamika manusia dan organisasi, pekerjaan seperti:
trainer, fasilitator, community
development, leadership development, atau organizational development
juga bisa cocok.
Apalagi kalau kamu mulai menikmati
proses membuat orang lain berkembang, bukan hanya menyelesaikan
pekerjaan mereka.
5.
Social entrepreneur / pengusaha berbasis komunitas
Ini justru opsi yang menurut saya
perlu kamu pertimbangkan serius.
Karena kamu punya pengalaman
memahami komunitas, program, kebutuhan lapangan, dan komunikasi.
Kamu bisa membangun usaha yang tetap
punya unsur sosial, misalnya:
- jasa event & dokumentasi,
- creative agency,
- percetakan/desain,
- konsultasi organisasi,
- pelatihan,
- media komunitas,
- pendidikan,
- jasa digital untuk lembaga/komunitas.
Dengan begitu kamu tidak hanya mengabdi,
tetapi juga membangun kemandirian ekonomi.
Yang
justru kurang cocok untuk pola dirimu
Bukan berarti kamu tidak mampu,
tetapi pekerjaan yang sangat:
rutin → repetitif → minim interaksi
→ minim ruang mengambil keputusan → hanya mengikuti instruksi
kemungkinan kurang memanfaatkan
potensimu.
Misalnya pekerjaan yang sebagian
besar hanya:
menerima instruksi → mengerjakan hal
yang sama → menyerahkan → selesai.
Kamu tampaknya membutuhkan ruang
berpikir dan ruang mengambil keputusan.
Kalau saya petakan
|
Bidang |
Kecocokan
dengan pola yang kita bahas |
|
Manajemen proyek/program |
⭐⭐⭐⭐⭐ |
|
Konsultan organisasi |
⭐⭐⭐⭐⭐ |
|
Strategic communication |
⭐⭐⭐⭐⭐ |
|
Community development |
⭐⭐⭐⭐⭐ |
|
Trainer/fasilitator |
⭐⭐⭐⭐ |
|
Creative strategist |
⭐⭐⭐⭐ |
|
Social entrepreneur |
⭐⭐⭐⭐ |
|
Administrasi rutin |
⭐⭐ |
|
Pekerjaan sangat repetitif |
⭐⭐ |
Ini bukan ranking objektif
pekerjaan, melainkan pemetaan kecocokan terhadap karakter yang kita bahas.
Tapi
ada satu hal yang lebih penting
Saya tidak ingin kamu hanya mencari:
“Pekerjaan apa yang cocok dengan
saya?”
Pertanyaan yang lebih matang adalah:
“Pekerjaan apa yang membuat
kemampuan saya bernilai secara ekonomi tanpa membuat saya kehilangan nilai
hidup yang saya pegang?”
Karena dari pembacaan kita
sebelumnya, saya melihat kamu punya dua kebutuhan yang harus berjalan
bersamaan:
makna dan kemandirian.
Kalau hanya makna → kamu berisiko
terus berkorban.
Kalau hanya uang → kamu mungkin
cepat kehilangan kepuasan.
Yang ideal adalah menemukan titik
temu:
KEAHLIAN → PENGHASILAN → MAKNA →
KEMANDIRIAN.
Dan kalau kamu mau serius, saya bisa
bantu membuat “peta karier pribadi kamu”: dari kemampuanmu sekarang,
pekerjaan yang bisa menghasilkan uang, usaha yang realistis dimulai, sampai rencana
1–3 tahun untuk mengubah pengalaman organisasi yang kamu punya menjadi profesi
yang bernilai.
Buatkan saya rencana 1–3 tahun untuk
mengubah pengalaman organisasi saya menjadi profesi yang bernilai
Bisa. Saya akan membuatnya dengan
satu prinsip: pengalaman organisasimu jangan dibuang ketika masuk dunia
profesional—justru dikemas ulang menjadi kompetensi yang bisa dijual.
Dari pola yang sudah kita bedah,
saya akan mengarahkan rencana ini ke kombinasi manajemen program +
komunikasi strategis + pengembangan organisasi, dengan opsi berkembang
menjadi konsultan/agency atau usaha berbasis jasa.
TARGET
3 TAHUN
Bukan sekadar “mencari pekerjaan”.
Targetnya:
Dari orang yang dikenal karena aktif
berorganisasi → menjadi profesional yang dibayar karena kemampuan mengelola
program, komunikasi, dan sistem organisasi.
Gambaran akhirnya:
PENGALAMAN NU
↓
PORTOFOLIO PROFESIONAL
↓
JASA / PEKERJAAN BERBAYAR
↓
SPESIALISASI
↓
PERSONAL BRAND + JARINGAN
↓
PROFESIONAL / KONSULTAN / USAHA
TAHUN 1 — UBAH “PENGALAMAN” MENJADI “KEAHLIAN”
Ini tahun paling penting.
Jangan buru-buru mengejar jabatan
baru.
Bangun dulu aset profesionalmu.
Bulan
1–3: Inventarisasi kemampuan
Buat daftar seluruh pekerjaan yang
pernah kamu lakukan.
Jangan tulis:
“Aktif di NU.”
Terlalu umum.
Ubah menjadi:
“Merancang dan mengawal pelaksanaan
program organisasi.”
“Mengkoordinasikan kebutuhan teknis
kegiatan.”
“Menyusun materi komunikasi dan
publikasi.”
“Mengelola dokumentasi kegiatan.”
“Berkoordinasi dengan pengurus dan
stakeholder.”
“Menangani persoalan operasional di
tingkat lapangan.”
Itulah kompetensi.
Kemudian kelompokkan menjadi lima:
Project Management
Organizational Development
Communication
Event Management
Community Engagement
Bulan 4–6: Bangun portofolio
Ini penting sekali.
Jangan hanya mengatakan:
“Saya berpengalaman.”
Tunjukkan buktinya.
Buat minimal 5 case study
dari pengalaman nyata.
Misalnya:
Case
Study 01
Perencanaan Program Organisasi
Isi:
- masalah awal,
- tujuan,
- strategi,
- pelaksanaan,
- peranmu,
- hasil.
Case
Study 02
Event Management
Case
Study 03
Komunikasi & Publikasi
Case
Study 04
Pengembangan Organisasi
Case
Study 05
Problem Solving Lapangan
Tidak perlu membuka informasi
internal yang sensitif.
Yang dijual adalah kemampuanmu,
bukan rahasia organisasi.
Bulan 7–9: Tambah kompetensi formal
Pengalaman lapanganmu sudah ada.
Sekarang tambahkan teori.
Prioritaskan:
1.
Project Management
Pelajari:
- project planning,
- timeline,
- budgeting,
- risk management,
- stakeholder management,
- monitoring & evaluation.
2.
Strategic Communication
Pelajari:
- copywriting,
- content strategy,
- campaign planning,
- storytelling,
- social media strategy.
3.
Presentation
Kamu perlu mampu menjelaskan:
“Ini masalahnya. Ini strateginya.
Ini yang saya lakukan. Ini hasilnya.”
dalam 5–10 menit.
4.
Digital tools
Minimal kuasai dengan baik:
- Google Workspace,
- Microsoft Office,
- Canva,
- spreadsheet,
- presentation tools,
- basic project-management tools,
- AI untuk riset dan produksi konten.
Bulan 10–12: Mulai mencari uang dari kemampuan
Jangan menunggu sampai merasa
“sempurna”.
Mulai kecil.
Misalnya menawarkan:
Paket
1
Pendampingan Program Organisasi
Paket
2
Manajemen Event
Paket
3
Dokumentasi & Publikasi
Paket
4
Pembuatan Materi Komunikasi
Paket
5
Pendampingan Sistem Organisasi
Awalnya mungkin klien berasal dari
jaringan yang sudah kamu kenal.
Tetapi prinsipnya harus berubah:
bukan lagi “tolong bantu kegiatan
kami”, tetapi “ini layanan profesional yang saya tawarkan.”
Itu perubahan mental yang penting.
TAHUN 2 — PROFESIONALISASI
Tahun kedua jangan lagi terlalu
banyak mencoba semuanya.
Pilih 1–2 spesialisasi utama.
Saya melihat kombinasi yang menarik
untukmu:
Program & Organizational
Development + Strategic Communication
Misalnya positioning:
“Membantu organisasi dan lembaga
komunitas merancang program, membangun sistem kerja, dan mengkomunikasikan
program secara efektif.”
Itu jauh lebih bernilai daripada:
“Saya orang NU yang biasa mengurus
kegiatan.”
Tahun
2: Bangun nama
Mulai membuat konten profesional.
Tidak harus menjadi influencer.
Cukup rutin membagikan:
pengalaman → pelajaran → solusi.
Contoh:
“5 kesalahan yang sering terjadi
ketika organisasi membuat program.”
atau:
“Kenapa banyak program organisasi
berhenti setelah launching?”
atau:
“Cara membuat pembagian tugas
kepanitiaan yang tidak bergantung pada satu orang.”
Ini sangat cocok dengan
pengalamanmu.
Kamu tidak perlu berpura-pura
menjadi guru.
Ceritakan apa yang benar-benar kamu
alami dan pelajari.
Tahun 2: Naikkan nilai pekerjaan
Pada tahap ini, jangan hanya menjual
tenaga.
Jual:
keahlian + sistem + hasil.
Misalnya jangan:
“Saya bisa bantu acara.”
Tetapi:
“Saya membantu organisasi merancang
dan mengawal event dari perencanaan sampai evaluasi.”
Perbedaannya besar.
Yang pertama menjual tenaga.
Yang kedua menjual solusi.
TAHUN 3 — MEMBANGUN MESIN PENGHASILAN
Pada tahun ketiga, targetnya bukan
lagi kamu mengerjakan semua sendiri.
Mulai bangun micro-agency /
consultancy.
Tidak perlu kantor besar.
Bahkan bisa dimulai dengan 2–4
orang.
Contoh struktur:
Kamu — Strategy & Client
↓
Project Manager
↓
Creative / Design
↓
Documentation / Digital
Dengan begitu kamu mulai melakukan
apa yang tadi kita bahas:
berhenti menjadi orang yang
mengerjakan semuanya → menjadi orang yang membangun sistem dan orang.
MODEL BISNISNYA
Saya membayangkan tiga sumber
pendapatan.
1.
Project
Misalnya:
- event,
- campaign,
- program organisasi,
- pelatihan,
- dokumentasi,
- komunikasi.
2.
Retainer
Organisasi membayar secara berkala
untuk:
- pendampingan program,
- komunikasi,
- konsultasi,
- monitoring.
3.
Training
Kamu bisa mengembangkan pelatihan:
- manajemen organisasi,
- perencanaan program,
- komunikasi organisasi,
- kepanitiaan,
- dokumentasi,
- leadership dasar.
Dengan demikian penghasilanmu tidak
hanya bergantung pada jumlah jam kerja.
TARGET PERUBAHANNYA
Sekarang
“Saya membantu organisasi.”
↓
Tahun
1
“Saya punya kompetensi profesional
dalam mengelola program dan komunikasi.”
↓
Tahun
2
“Saya menawarkan jasa profesional.”
↓
Tahun
3
“Saya memiliki sistem layanan dan
tim yang menghasilkan nilai.”
Itulah transformasi yang saya
inginkan untukmu.
SATU HAL YANG SANGAT PENTING
Jangan meninggalkan pengalaman NU.
Justru jadikan NU sebagai
laboratorium pengalamanmu.
Tetapi bedakan:
NU = tempat pengalamanmu terbentuk.
Bukan:
NU = satu-satunya sumber identitas
profesionalmu.
Kamu bisa membawa kemampuan itu ke:
- perusahaan,
- pesantren,
- sekolah,
- NGO,
- lembaga sosial,
- organisasi masyarakat,
- UMKM,
- event,
- pemerintahan,
- startup,
- komunitas profesional.
Dengan begitu jaringan yang selama
ini kamu bangun menjadi modal karier, bukan hanya daftar kenalan.
ROADMAP SINGKAT
|
Periode |
Fokus |
Output |
|
0–3 bulan |
Inventarisasi |
Peta kompetensi |
|
4–6 bulan |
Portofolio |
5 case study |
|
7–9 bulan |
Skill |
Project + communication skill |
|
10–12 bulan |
Monetisasi |
Klien/proyek pertama |
|
Tahun 2 |
Spesialisasi |
Positioning profesional |
|
Tahun 2 |
Personal brand |
Konten & jaringan |
|
Tahun 3 |
Sistem |
Tim kecil |
|
Tahun 3 |
Scale |
Consultancy/agency |
Dan
saya ingin mengubah satu cara pandangmu
Jangan lagi berkata:
“Saya cuma aktif di organisasi.”
Kalau memang kamu melakukan
pekerjaan-pekerjaan yang kita bahas, kalimat profesionalnya adalah:
“Saya memiliki pengalaman dalam
pengelolaan program, koordinasi stakeholder, komunikasi organisasi, event
management, dan pengembangan komunitas.”
Itu bukan membesar-besarkan diri.
Itu menerjemahkan pengalaman ke
bahasa profesional.
Dan menurut saya, langkah pertama
yang paling konkret sekarang adalah membuat CV profesional versi baru
yang mengubah pengalamanmu di NU menjadi pengalaman kerja yang bernilai di
pasar profesional—bukan CV “aktivis”, tetapi CV Project & Organizational
Professional.
M. NASUCHA ABI SYAKUR, S.T., M.M.
Project & Organizational
Development | Strategic Communication | Community Development
📍 Lampung Tengah, Lampung,
Indonesia
📞 [Nomor Telepon]
✉️ [Email Profesional]
🔗 [LinkedIn / Portfolio]
PROFIL
PROFESIONAL
Profesional dengan pengalaman lebih
dari 8 tahun dalam pengelolaan program, pengembangan organisasi, komunikasi
strategis, event management, dan pemberdayaan komunitas.
Berpengalaman mengubah gagasan
organisasi menjadi program yang terencana, mengoordinasikan berbagai pemangku
kepentingan, mengawal implementasi di lapangan, serta mengembangkan strategi
komunikasi agar program dapat dipahami dan diterima oleh masyarakat.
Memiliki pengalaman panjang dalam
lingkungan organisasi sosial-keagamaan dan komunitas, dengan kekuatan utama
pada program management, stakeholder management, organizational development,
strategic communication, dan problem solving.
Memiliki visi untuk membangun
organisasi yang lebih sistematis, mandiri, adaptif, dan tidak bergantung pada individu
tertentu.
KEAHLIAN
UTAMA
- Project & Program Management
- Organizational Development
- Strategic Communication
- Community Development
- Stakeholder Management
- Event Management
- Team Coordination
- Program Planning & Evaluation
- Content & Campaign Strategy
- Public Communication
- Problem Solving
- Leadership & Facilitation
- Documentation & Digital Communication
- Partnership Development
PENGALAMAN PROFESIONAL
ORGANIZATIONAL
DEVELOPMENT & PROGRAM CONSULTANT
Independent Consultant — Lampung,
Indonesia
2028–Sekarang
Mendampingi organisasi, lembaga
pendidikan, komunitas, dan lembaga sosial dalam merancang serta mengembangkan
program dan sistem organisasi.
Tanggung
jawab utama:
- Menganalisis kebutuhan organisasi dan memetakan
persoalan operasional.
- Membantu menyusun visi, program kerja, timeline,
indikator keberhasilan, dan mekanisme evaluasi.
- Mengembangkan sistem pembagian tugas dan koordinasi
antarbagian.
- Mendampingi implementasi program dari tahap perencanaan
hingga evaluasi.
- Membantu organisasi membangun komunikasi internal dan
eksternal yang lebih efektif.
- Memfasilitasi rapat, diskusi strategis, dan evaluasi
program.
- Mengembangkan strategi agar organisasi tidak terlalu
bergantung pada satu atau dua individu.
Pencapaian:
- Mendampingi sejumlah organisasi dan lembaga komunitas
dalam penyusunan program kerja dan sistem koordinasi.
- Mengembangkan model pendampingan organisasi berbasis program,
manusia, sistem, dan komunikasi.
- Membantu klien mengubah kegiatan yang sebelumnya
bersifat insidental menjadi program yang memiliki target dan evaluasi.
PROJECT
& PROGRAM MANAGER
[Nama Lembaga/Perusahaan] — Lampung
2027–2028
Mengelola berbagai program mulai
dari perencanaan, koordinasi sumber daya, pelaksanaan, komunikasi stakeholder,
hingga evaluasi.
Tanggung
jawab:
- Menyusun project plan dan timeline.
- Mengkoordinasikan tim dan stakeholder.
- Mengelola kebutuhan teknis dan operasional program.
- Memantau progres pekerjaan dan menyelesaikan hambatan
lapangan.
- Menyusun laporan dan evaluasi.
- Mengembangkan dokumentasi dan komunikasi program.
- Memastikan program berjalan sesuai tujuan dan target.
Pencapaian:
- Mengelola beberapa proyek lintas tim dengan melibatkan
berbagai stakeholder.
- Meningkatkan keteraturan koordinasi melalui pembagian
tugas dan sistem monitoring.
- Mengembangkan standar dokumentasi dan evaluasi
kegiatan.
ORGANIZATIONAL EXPERIENCE
PCNU
LAMPUNG TENGAH
Wakil Sekretaris / Program &
Organizational Development
2022–2027
Berperan dalam mendukung pengelolaan
organisasi, koordinasi program, komunikasi kepengurusan, serta pelaksanaan berbagai
kegiatan organisasi.
Kontribusi:
- Mendukung koordinasi program organisasi.
- Mengawal pelaksanaan program dari tahap perencanaan
hingga implementasi.
- Membantu menyelesaikan persoalan operasional di tingkat
lapangan.
- Mengembangkan konsep kegiatan dan teknis pelaksanaan.
- Menyiapkan materi komunikasi dan publikasi.
- Mengelola dokumentasi kegiatan.
- Berkoordinasi dengan pengurus, lembaga, badan otonom,
pesantren, dan komunitas.
- Mendukung komunikasi antara struktur organisasi dan
pelaksana di lapangan.
Pengalaman ini menjadi fondasi utama
dalam pengembangan kemampuan project management, stakeholder management,
komunikasi, dan organizational development.
COMMUNITY & SOCIAL DEVELOPMENT
Community Development & Program
Facilitator
2026–2028
Mendampingi berbagai kegiatan
komunitas, pendidikan keagamaan, kepemudaan, dan pemberdayaan masyarakat.
Fokus pada:
- pemetaan kebutuhan komunitas,
- perencanaan program,
- koordinasi relawan,
- pengembangan kegiatan,
- komunikasi publik,
- dokumentasi,
- evaluasi program.
Memiliki pengalaman berinteraksi
dengan berbagai lapisan masyarakat dan memahami karakteristik pengelolaan
organisasi berbasis komunitas.
STRATEGIC COMMUNICATION & CREATIVE PROJECT
Creative & Communication
Strategist
2026–Sekarang
Mengembangkan komunikasi kreatif
untuk organisasi dan komunitas melalui:
- konsep kampanye,
- copywriting,
- slogan,
- poster dan materi visual,
- konten digital,
- dokumentasi kegiatan,
- storytelling,
- konsep lagu/syair,
- komunikasi publik.
Fokus utama bukan sekadar
menghasilkan materi visual, tetapi memastikan pesan, target audiens, media,
dan tujuan komunikasi saling terhubung.
SELECTED PROJECTS
01
— Organizational Program Development
Merancang sistem program organisasi
yang mencakup:
pemetaan masalah → perencanaan → pembagian tugas → implementasi → monitoring
→ evaluasi.
02
— Community Event Management
Mengelola kegiatan komunitas mulai
dari konsep, koordinasi tim, kebutuhan teknis, publikasi, dokumentasi, hingga
evaluasi.
03
— Strategic Communication Campaign
Mengembangkan konsep komunikasi
untuk meningkatkan pemahaman dan partisipasi masyarakat terhadap program
organisasi.
04
— Organizational Communication System
Membantu membangun alur komunikasi
yang lebih jelas antara pengurus, pelaksana program, dan komunitas.
05
— Digital & Creative Communication
Mengembangkan materi visual, narasi,
kampanye, dan dokumentasi untuk memperkuat identitas serta komunikasi
organisasi.
PENDIDIKAN
MAGISTER
MANAJEMEN
[Nama Universitas]
[Tahun]
SARJANA
TEKNIK
[Nama Universitas]
[Tahun]
SERTIFIKASI & PELATIHAN
- Project Management — [Lembaga]
- Strategic Communication — [Lembaga]
- Organizational Development — [Lembaga]
- Leadership & Facilitation — [Lembaga]
- Digital Communication — [Lembaga]
TOOLS
Microsoft Office
Word • Excel • PowerPoint
Google Workspace
Docs • Sheets • Drive • Forms
Creative & Digital
Canva • Social Media Management • AI-assisted Content Creation
Project Management
Project Planning • Timeline • Monitoring • Reporting • Evaluation
VALUE PROPOSITION
Saya membantu organisasi mengubah
gagasan menjadi program yang terencana, dijalankan oleh tim yang jelas,
dikomunikasikan dengan baik, dan dapat dievaluasi hasilnya.
PERSONAL BRAND
“Membangun
organisasi yang tidak hanya aktif, tetapi mampu bekerja secara sistematis.”
Fokus profesional:
People → Program → System →
Communication → Impact
REFERENSI
Tersedia apabila diperlukan.
sekarang secara [politik banyak
orang yang menganggap saya akan condong ke seseorang yang berkepntingan padahal
saya netral
Saya paham. Dalam posisi Anda, netral
belum tentu terlihat netral dari luar. Apalagi kalau Anda aktif, dekat
dengan banyak pihak, sering membantu program, dan punya akses komunikasi dengan
orang-orang yang sedang berkepentingan.
Yang perlu dibedakan adalah:
- Netral secara sikap:
Anda memang belum memutuskan mendukung pihak tertentu.
- Netral secara tindakan: Anda berusaha memberi ruang dan perlakuan yang wajar
kepada semua pihak.
- Netral secara persepsi: orang lain melihat Anda netral. Ini yang paling sulit
dikendalikan.
Kadang masalahnya bukan karena Anda
melakukan sesuatu yang salah, tetapi karena orang membaca kedekatan sebagai
keberpihakan.
Yang
menurut saya penting untuk Anda
Jangan terlalu sibuk membuktikan
bahwa Anda netral kepada semua orang. Kalau terlalu sering menjelaskan, justru
bisa muncul kesan bahwa Anda sedang membela diri.
Lebih kuat kalau Anda membangun pola
perilaku yang konsisten:
“Saya menghormati semua pihak,
bekerja berdasarkan kepentingan organisasi, dan tidak menjadikan kedekatan
pribadi sebagai dasar sikap.”
Kalau ada yang bertanya langsung,
Anda bisa menjawab sederhana:
“Saya dekat dengan banyak orang
karena tugas dan hubungan organisasi. Dekat bukan berarti berpihak. Kalau ada
kepentingan organisasi, saya akan dukung yang terbaik untuk organisasi. Soal
pilihan pribadi, itu ranah saya.”
Dan ada satu hal yang menurut saya
penting untuk karakter Anda: jangan sampai Anda kehilangan kebebasan hanya
karena takut dianggap berpihak.
Anda tetap boleh membantu seseorang
ketika memang pekerjaannya benar. Anda tetap boleh berkomunikasi dengan siapa
pun. Anda tetap boleh punya hubungan baik dengan semua pihak. Yang penting, standar
Anda tidak berubah hanya karena siapa yang sedang berhadapan dengan Anda.
Dalam dinamika organisasi, reputasi
netral biasanya bukan dibangun dari satu pernyataan, tetapi dari rekam jejak
yang konsisten.
Kalau Anda mau, saya bisa bantu membedah
posisi Anda secara politik-organisasi: kenapa orang bisa membaca Anda condong
ke seseorang, padahal Anda merasa netral, dan bagaimana menjaga posisi netral
tanpa menjadi “abu-abu” atau kehilangan pengaruh.
Bantu saya membedah posisi saya
secara politik-organisasi: kenapa orang bisa membaca saya condong ke seseorang,
padahal saya merasa netral, dan bagaimana menjaga posisi netral tanpa menjadi
“abu-abu” atau kehilangan pengaruh
Bisa. Dan menurut saya, kasus Anda
menarik karena masalahnya bukan sekadar “orang salah paham”. Ada
kemungkinan posisi Anda memang berada di titik yang secara struktural mudah
dibaca sebagai keberpihakan, meskipun niat Anda netral.
Saya bedah secara jujur.
1.
Anda mungkin bukan “netral yang pasif”
Dari cerita Anda sebelumnya, Anda
bukan tipe orang yang hanya hadir lalu ikut keputusan. Anda terbiasa mengawal,
mengerjakan, menyusun teknis, menyelesaikan masalah, dan memastikan sesuatu
berjalan.
Akibatnya, ketika Anda terlihat
aktif bersama seseorang, orang bisa membaca:
“Dia berada di lingkarannya.”
Padahal dari sisi Anda:
“Saya sedang menjalankan tugas.”
Ini perbedaan antara niat
internal dan persepsi eksternal.
Dan dalam organisasi, orang sering
menilai bukan dari niat kita, tetapi dari siapa yang terlihat bersama kita,
apa yang kita kerjakan, dan kapan kita melakukannya.
2.
Kedekatan kerja sering dianggap sebagai kedekatan politik
Misalnya Anda:
- sering mendampingi seseorang,
- membantu menyelesaikan persoalannya,
- membuat konsep atau materi untuk kegiatannya,
- berkomunikasi intens,
- berada di forum yang sama,
- membela program yang menurut Anda memang baik.
Dari perspektif Anda:
“Saya profesional.”
Dari perspektif orang lain:
“Berarti dia bagian dari kelompok
itu.”
Belum tentu penilaian kedua benar.
Tetapi persepsi seperti itu sangat mungkin muncul.
Karena itu, Anda perlu memisahkan
tiga hal:
kedekatan personal ≠ kesamaan
kepentingan ≠ keberpihakan politik.
3.
Ada kemungkinan Anda terlalu “terlihat berguna” bagi satu pihak
Ini justru bagian yang perlu Anda
waspadai.
Orang yang mampu mengubah gagasan
menjadi pekerjaan nyata biasanya akan dicari oleh orang yang sedang punya
kepentingan.
Semakin Anda mampu:
memahami masalah → membuat konsep →
menggerakkan orang → menghasilkan sesuatu,
semakin besar kemungkinan Anda
dianggap sebagai orangnya seseorang.
Padahal sebenarnya Anda bisa saja
berpikir:
“Saya membantu karena saya bisa
membantu.”
Ini bukan kesalahan.
Tetapi kalau bantuan itu terlalu
terkonsentrasi pada satu figur, persepsinya akan berubah.
Jadi bagaimana tetap netral tanpa menjadi abu-abu?
Menurut saya, jangan membangun
citra:
“Saya tidak berpihak kepada siapa
pun.”
Lebih kuat membangun identitas:
“Saya berpihak pada prinsip dan
kepentingan organisasi, bukan pada figur.”
Ini berbeda.
Karena orang netral yang terlalu
sibuk mengatakan “saya netral” kadang justru terlihat tidak punya sikap.
Sedangkan orang yang mengatakan:
“Saya bisa bekerja dengan siapa pun,
tetapi standar saya sama untuk siapa pun.”
terlihat memiliki posisi.
Buat
4 standar pribadi
Sebelum mengambil sikap dalam
situasi yang sensitif, tanyakan:
1. Kalau orang yang saya sukai
melakukan ini, apakah saya tetap menganggapnya benar?
2. Kalau orang yang tidak dekat
dengan saya melakukan hal yang sama, apakah penilaian saya tetap sama?
3. Apakah saya membantu karena
kepentingan organisasi atau karena hubungan pribadi?
4. Kalau keputusan saya dibaca oleh
semua pihak, apakah saya bisa menjelaskan alasannya secara terbuka?
Kalau empat pertanyaan itu bisa Anda
jawab dengan tenang, posisi Anda biasanya lebih kokoh.
Ada satu kesalahan yang sebaiknya Anda hindari
Jangan menjadi “netral” dengan cara
menjauh dari semua orang.
Itu justru bisa membuat Anda
kehilangan pengaruh.
Anda boleh:
- berteman dengan semua pihak,
- berdiskusi dengan semua pihak,
- membantu program yang baik,
- memberikan kritik kepada siapa pun,
- menghadiri kegiatan berbagai kelompok,
- bekerja bersama siapa pun.
Yang harus dijaga adalah konsistensi
standar.
Jangan sampai:
kepada A Anda kritis,
kepada B Anda diam.
Atau:
ketika A melakukan sesuatu, Anda
menyebutnya strategi;
ketika B melakukan hal yang sama, Anda menyebutnya masalah.
Di situlah netralitas mulai
kehilangan kredibilitas.
Saya justru melihat posisi yang lebih kuat untuk Anda
Bukan:
“Saya orangnya siapa?”
Tetapi:
“Saya orang yang bisa bekerja dengan
siapa pun.”
Itu posisi yang berbeda.
Kalau suatu saat seseorang bertanya:
“Kamu sebenarnya di pihak siapa?”
Anda tidak perlu panik atau panjang
lebar membela diri.
Cukup:
“Saya tidak membangun posisi
berdasarkan siapa orangnya. Saya melihat kepentingannya, caranya, dan dampaknya
untuk organisasi. Saya bisa bekerja dengan siapa pun, tapi bukan berarti saya
menjadi bagian dari kepentingan personal siapa pun.”
Kalimat seperti itu lebih kuat
daripada:
“Saya benar-benar netral kok.”
Karena yang pertama menunjukkan prinsip,
bukan sekadar klaim netralitas.
Dan
ada satu hal yang mungkin paling penting untuk Anda
Dari pola yang Anda ceritakan
sebelumnya, Anda punya kecenderungan turun tangan ketika melihat sesuatu
perlu dibereskan.
Itu kekuatan Anda.
Tetapi dalam situasi
politik-organisasi, kekuatan tersebut perlu diberi pagar.
Mulai bedakan:
“Ini masalah yang memang harus saya
bantu.”
dengan
“Ini masalah seseorang yang
sebenarnya tidak harus saya ambil.”
Karena setiap kali Anda mengambil
terlalu banyak urusan seseorang, Anda bukan hanya memberikan tenaga.
Anda juga sedang meminjamkan
reputasi Anda kepada orang tersebut.
Dan reputasi adalah modal yang jauh
lebih mahal daripada waktu.
Formula
posisi Anda ke depan:
Dekat dengan banyak pihak.
Terikat pada sedikit prinsip.
Tidak mudah dipaksa memilih.
Tidak takut berbeda pendapat.
Bekerja berdasarkan alasan yang bisa dipertanggungjawabkan.
Dan jangan menjadikan satu figur sebagai pusat identitas Anda.
Kalau itu konsisten dilakukan, Anda
tidak perlu mengejar label “orang netral.”
Lama-lama orang akan mengenal Anda
sebagai:
“Dia bisa dekat dengan siapa saja,
tapi tidak gampang dimiliki oleh siapa saja.”
Menurut saya, itu jauh lebih kuat
daripada sekadar terlihat netral.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar