Jumat, 09 Oktober 2026

KADER NU ANTI-STRUKTURAL. M. NASUCHA ABI SYAKUR

 

 

 

KADER NU ANTI-STRUKTURAL

Ketika Kultur Berjalan Sendiri dan Jam'iyah Kehilangan Kader

Membaca Relasi NU Kultural dan NU Struktural, Jam'iyah dan Jamaah, Pesantren, Ranting, Banom, Kaderisasi, serta Masa Depan Nahdlatul Ulama

M. NASUCHA ABI SYAKUR

Wakil Sekretaris Bidang Organisasi, Lembaga dan Kader

SENDANGAGUNG 2024

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

CATATAN PENULIS

Buku ini lahir dari kegelisahan.

Kegelisahan terhadap satu kalimat yang semakin sering terdengar di lingkungan Nahdlatul Ulama:

“NU tidak diurus pun tetap jalan.”

Kalimat tersebut mungkin lahir dari pengalaman. Di kampung-kampung, pengajian tetap berlangsung. Yasinan tetap berjalan. Tahlilan tetap hidup. Shalawatan tetap ramai. Maulidan tetap dilaksanakan. Masjid dan mushala tetap dipenuhi jamaah. Pesantren tetap mengaji.

Lalu muncul kesimpulan:

“Kalau amaliah NU sudah hidup di masyarakat, untuk apa NU harus terlalu sibuk mengurus struktur?”

Di sinilah buku ini dimulai.

Saya tidak menulis buku ini untuk menyerang mereka yang kritis terhadap struktur NU. Kritik terhadap birokrasi, administrasi, rapat yang berlebihan, perebutan jabatan, formalitas, dan organisasi yang kehilangan manfaat adalah kritik yang diperlukan.

Namun, kritik terhadap cara berorganisasi tidak boleh berubah menjadi penolakan terhadap fungsi organisasi.

Sebab NU bukan hanya kumpulan amaliah.

NU adalah tradisi keilmuan, sanad keulamaan, jamaah, pesantren, dakwah, pendidikan, pelayanan sosial, kebangsaan, dan sekaligus jam'iyah.

Karena itu buku ini menggunakan istilah “kader NU anti-struktural” bukan sebagai cap atau penghukuman terhadap seseorang.

Istilah itu adalah kategori analitis untuk membaca sebuah gejala:

ketika seorang kader merasa cukup menjadi bagian dari kultur NU, tetapi mulai memandang struktur NU sebagai sesuatu yang tidak penting, tidak berguna, bahkan tidak diperlukan.

Di titik itulah kita perlu berhenti sejenak.

Bukan untuk menyalahkan.

Tetapi untuk bertanya:

Apa yang sebenarnya sedang terjadi pada jam'iyah kita?

 

DAFTAR ISI

Bagian I — Memahami DNA NU

  1. NU: Tradisi yang Menjadi Jam'iyah
  2. Jam'iyah dan Jamaah: Dua Sisi yang Tidak Boleh Dipisahkan
  3. Aswaja Lebih Luas daripada Amaliah
  4. Mengapa NU Memerlukan Struktur?
  5. Dari Pesantren Menuju Organisasi

Bagian II — Fenomena Kader NU Anti-Struktural

  1. “NU Tidak Diurus Pun Tetap Jalan”
  2. Dari Kritik Birokrasi Menuju Anti-Struktur
  3. Lima Tipe Kader Anti-Struktur
  4. Mengapa Kader Tidak Percaya kepada Struktur?
  5. Ketika Figur Lebih Dipercaya daripada Organisasi
  6. Struktur yang Tidak Menghadirkan Manfaat

Bagian III — Titik Rawan Regenerasi

  1. Ranting: Jantung NU
  2. MWCNU: Jembatan yang Sering Terlupakan
  3. Pesantren dan Jam'iyah
  4. Banom dan Regenerasi Lintas Generasi
  5. Kader Muda dan Pertanyaan “NU Itu Apa bagi Saya?”
  6. Administrasi sebagai Instrumen Khidmah

Bagian IV — Bahaya Memisahkan Kultur dan Struktur

  1. Kultural Tanpa Struktural
  2. Struktural Tanpa Kultural
  3. Ketika NU Hanya Menjadi Tradisi
  4. Ketika NU Hanya Menjadi Birokrasi
  5. Krisis Regenerasi yang Tidak Terlihat

Bagian V — Jalan Rekonstruksi

  1. Menjam'iyahkan Kultur Tanpa Membirokratisasikan Kultur
  2. Mengembalikan Makna Khidmah
  3. Membangun Ranting yang Hidup
  4. Membangun Ekosistem Kaderisasi
  5. Struktur yang Melayani, Bukan Dilayani
  6. Manifesto Kader NU Masa Depan

Bagian VI — Penutup

  1. NU Masa Depan: Dari Struktur Menuju Peradaban
  2. Jangan Wariskan Hanya Amaliah, Wariskan Perjuangan

Lampiran

  • Biografi Penulis
  • Kiprah dan Jejak Pengabdian
  • Profil Pemikiran Penulis
  • Pedoman Pembenahan Ranting
  • Roadmap Kaderisasi Lima Tahun
  • Instrumen Evaluasi Ranting
  • Daftar Pustaka

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PROLOG

Sebuah Kegelisahan dari Kampung

Ada kalimat yang tampak sederhana tetapi menyimpan persoalan besar:

“NU itu sudah ada di masyarakat. Tidak diurus pun tetap jalan.”

Kalimat tersebut tidak sepenuhnya salah.Bahkan, pada satu sisi, ia menunjukkan betapa kuatnya akar sosial NU.

Ketika struktur tidak hadir, masyarakat masih menjalankan tradisi.Ketika kantor tidak buka, jamaah masih berkumpul.

Ketika rapat tidak dilakukan, yasinan tetap berlangsung. Ketika pengurus berganti, tahlilan tetap dilaksanakan.

Di sinilah kehebatan kultur NU.

Tetapi justru karena itulah kita harus berhati-hati.Sebab ada kekeliruan logika yang sering tidak disadari:

amaliah yang tetap berjalan tidak otomatis membuktikan bahwa organisasi tidak diperlukan.

Seseorang masih bisa makan tanpa memiliki buku resep.Tetapi bukan berarti buku resep tidak berguna.

Sebuah keluarga masih bisa bertahan tanpa struktur administrasi yang rumit.

Tetapi organisasi sosial yang besar membutuhkan sistem agar pelayanan, kaderisasi, aset, pendidikan, dokumentasi, dan regenerasi dapat berlangsung lintas generasi.

Begitu pula NU. Kultur NU adalah kekuatan. Struktur NU adalah instrumen. Keduanya bukan musuh.Yang menjadi masalah adalah ketika salah satunya menganggap dirinya cukup tanpa yang lain.

 

 

 

 

 

 

BAGIAN I

MEMAHAMI DNA NU

BAB 1

NU: TRADISI YANG MENJADI JAM'IYAH

NU tidak lahir dari ruang kosong.

Sebelum berdirinya Nahdlatul Ulama pada 1926, telah tumbuh berbagai gerakan yang berkaitan dengan ulama dan pesantren, antara lain Nahdlatul Wathan, Tashwirul Afkar, dan Nahdlatut Tujjar.

Dengan demikian, sejarah NU tidak dapat dipahami hanya sebagai sejarah berdirinya sebuah organisasi.

Ia adalah sejarah pelembagaan sebuah ekosistem sosial-keagamaan.

-          Ada ulama.

-          Ada pesantren.

-          Ada santri.

-          Ada masyarakat.

-          Ada tradisi keilmuan.

-          Ada Aswaja.

-          Ada kebutuhan sosial.

Kemudian semua itu menemukan bentuk jam'iyah.Karena itu, struktur NU bukan pencipta kultur NU.

Sebaliknya, struktur NU adalah salah satu bentuk historis untuk mengorganisasi kekuatan yang telah hidup di tengah masyarakat.

Di sinilah hubungan antara jamaah dan jam'iyah menjadi sangat penting.

-          Jamaah adalah kehidupan sosial umat. Jam'iyah adalah organisasi yang menghimpun dan mengarahkannya.

-          Jamaah memberikan ruh. Jam'iyah memberikan bentuk.

-          Jamaah memberikan basis sosial. Jam'iyah memberikan sistem.

Keduanya harus bertemu.

 

 

 

 

 

BAB 2

JAM'IYAH DAN JAMAAH: DUA SISI YANG TIDAK BOLEH DIPISAHKAN

Kesalahan pertama adalah menganggap jam'iyah lebih penting daripada jamaah.

Kesalahan kedua adalah menganggap jamaah sudah cukup sehingga jam'iyah tidak diperlukan.

Keduanya sama-sama bermasalah.

Jam'iyah tanpa jamaah akan menjadi organisasi kosong.

Jamaah tanpa jam'iyah dapat menjadi kekuatan sosial yang besar tetapi kurang terorganisasi.

Karena itu rumusnya sederhana:

Jam'iyah harus menguatkan jamaah, dan jamaah harus menghidupkan jam'iyah.

NU harus berada di tengah masyarakat. Tetapi kehadiran di masyarakat tidak boleh membuat NU kehilangan sistem.

Sebaliknya, sistem tidak boleh membuat NU kehilangan masyarakat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 3

ASWAJA LEBIH LUAS DARIPADA AMALIAH

Tahlilan, yasinan, istighasah, maulidan, ziarah kubur dan shalawatan memang menjadi ekspresi penting tradisi Nahdliyyah.

Tetapi Aswaja tidak berhenti pada amaliah.

Aswaja juga berkaitan dengan:

  • aqidah;
  • fikih;
  • akhlak;
  • tasawuf;
  • tradisi keilmuan;
  • sanad;
  • adab;
  • dakwah;
  • pendidikan;
  • hubungan sosial;
  • kebangsaan;
  • kemaslahatan umat.

Jika Aswaja hanya dipahami sebagai kumpulan ritual, maka cakupan besar peradaban NU akan menyempit.

Karena itu kader NU tidak cukup hanya mampu menjawab:

“Apa amaliah NU?”

Kader juga harus mampu menjawab:

“Mengapa NU mengorganisasikan masyarakat?”

“Mengapa kaderisasi penting?”

“Mengapa pesantren dan organisasi harus bekerja sama?”

“Mengapa aset harus ditata?”

“Mengapa ranting harus hidup?”

“Mengapa generasi muda harus dipersiapkan?”

Di situlah Aswaja bertemu dengan jam'iyah.

 

 

BAB 4

MENGAPA NU MEMERLUKAN STRUKTUR?

Organisasi bukan sekadar papan nama.

Struktur diperlukan untuk sekurang-kurangnya tujuh hal:

1. Kaderisasi

Siapa yang akan meneruskan NU setelah generasi sekarang selesai?

2. Konsolidasi

Bagaimana potensi jamaah yang tersebar dapat dihimpun?

3. Pelayanan

Bagaimana kebutuhan masyarakat diidentifikasi dan dilayani?

4. Pendidikan

Bagaimana tradisi keilmuan ditransmisikan?

5. Pengelolaan aset

Bagaimana tanah, masjid, lembaga pendidikan, pesantren dan aset jam'iyah dijaga?

6. Representasi

Bagaimana aspirasi warga NU disampaikan melalui saluran organisasi yang sah?

7. Regenerasi

Bagaimana pengalaman satu generasi diwariskan kepada generasi berikutnya?

Maka, struktur bukan tujuan.

Struktur adalah alat untuk memastikan khidmah memiliki kesinambungan.

 

 

 

 

 

BAB 5

DARI PESANTREN MENUJU ORGANISASI

-          Pesantren mengajarkan kedalaman. Organisasi mengajarkan pengelolaan.

-          Pesantren membangun manusia. Organisasi menghubungkan manusia.

-          Pesantren menjaga sanad.Organisasi memperluas jangkauan.

Karena itu, hubungan pesantren dan NU tidak seharusnya dibangun dalam pola kompetisi.

Yang dibutuhkan adalah sinergi.

-          Pesantren membutuhkan jaringan sosial.Organisasi membutuhkan kedalaman ilmu.

-          Pesantren memberikan kader yang memiliki fondasi keagamaan.Organisasi menyediakan ruang aktualisasi sosial.

Formula yang ideal:

Pesantren melahirkan manusia berilmu; jam'iyah mengorganisasikan pengabdian manusia tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAGIAN II

FENOMENA KADER NU ANTI-STRUKTURAL

BAB 6

Ada paradoks dalam sejarah NU.

NU secara organisatoris lahir dari kultur pesantren dan masyarakat yang sudah ada sebelumnya. Bahkan dalam sebuah wawancara di NU Online, relasi itu digambarkan secara eksplisit: NU kultural telah hidup jauh sebelum NU sebagai organisasi, kemudian organisasi dibentuk untuk melengkapinya.

Akibatnya, seorang warga bisa mengalami NU terlebih dahulu melalui:

  • kiai,
  • pesantren,
  • keluarga,
  • masjid,
  • tahlilan,
  • yasinan,
  • shalawatan,
  • pengajian,
  • haul,
  • tradisi kampung,

tanpa pernah bersentuhan dengan struktur NU.Secara sosiologis, ini menghasilkan dua sumber legitimasi:

Legitimasi kultural:
“Gus/Kiai ini NU, tradisinya NU, keluarganya NU.”

Legitimasi organisatoris:
“Dia pengurus NU, ada struktur, ada AD/ART, ada mandat, ada program, ada mekanisme organisasi.”Keduanya tidak selalu bertemu.Dan dari sinilah bisa lahir persepsi:

“Saya NU meskipun tidak ikut organisasi NU.”Pada tahap tertentu, itu tidak bermasalah. Tetapi kalau berkembang menjadi:

“Organisasi NU tidak penting karena masyarakat sudah NU.”maka kita sudah masuk persoalan yang berbeda.

“NU TIDAK DIURUS PUN TETAP JALAN”

Kalimat ini harus dibaca dengan hati-hati. Ada kebenaran di dalamnya. Tetapi ada juga bahaya di baliknya.

Benar bahwa kultur NU memiliki kemampuan hidup secara organik. Namun, organisasi memiliki fungsi yang berbeda dari kultur.

Yasinan tidak membutuhkan SK. Tetapi kaderisasi membutuhkan sistem.

Tahlilan tidak membutuhkan struktur kepengurusan. Tetapi pengelolaan aset membutuhkan legalitas.

Shalawatan dapat berjalan secara spontan. Tetapi pendidikan kader membutuhkan kurikulum.

Masyarakat dapat berkumpul tanpa rapat. Tetapi konsolidasi ribuan warga membutuhkan koordinasi.

Jadi: Amaliah dapat berjalan tanpa instruksi organisasi. Tetapi keberlanjutan peradaban NU tidak dapat diserahkan hanya kepada spontanitas.

Kalau dibedah secara sosiologis, saya kira istilah “kader NU anti-struktur” sebaiknya dipakai sebagai tipologi analitis, bukan label untuk semua kader yang mengkritik organisasi. Ada perbedaan besar antara anti-birokrasi, anti-formalisme, dan anti-struktur.

Justru di sini persoalannya menarik: sebagian orang yang sangat “NU secara kultural” bisa sekaligus tidak percaya kepada organisasi NU secara struktural. Fenomena itu punya akar sosial yang cukup masuk akal, tetapi jika dibiarkan menjadi paradigma, dampaknya terhadap ranting dan kaderisasi bisa serius.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 7

DARI KRITIK BIROKRASI MENUJU ANTI-STRUKTUR

Tidak semua orang yang tidak menyukai rapat adalah anti-NU.

Tidak semua orang yang malas mengurus administrasi adalah anti-struktur.

Bahkan kritik terhadap birokrasi dapat menjadi tanda sehat.

Yang harus dibedakan adalah:

anti-birokrasi dan anti-organisasi.

Anti-birokrasi berkata:

“Jangan membuat struktur terlalu rumit.”

Anti-formalisme berkata:

“Jangan ukur kecintaan kepada NU hanya dari kartu anggota.”

Kulturalis berkata:

“NU harus hadir di masyarakat.”

Semua ini bisa menjadi kritik yang sehat.

Tetapi anti-struktur berkata:

“Organisasi NU tidak diperlukan.”

Di sinilah persoalannya berubah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 8

LIMA TIPE KADER ANTI-STRUKTUR

Tipe Pertama: Anti-Birokrasi

Tidak menyukai administrasi berlebihan.

Orang ini sebenarnya mencintai NU, tetapi tidak suka:

  • rapat terlalu banyak,
  • administrasi berbelit,
  • struktur bertingkat,
  • seremoni,
  • surat-menyurat,
  • perebutan posisi.

Dia berkata:“NU itu khidmah, bukan urusan jabatan.”Ini bukan otomatis anti-struktur.

Bahkan kritik seperti ini bisa sehat apabila mendorong struktur menjadi lebih efektif.

Solusi: sederhanakan administrasi.

Tipe Kedua: Anti-Formalitas

Tidak suka organisasi hanya mengejar jabatan.

Dia mengatakan:“Jangan mengukur ke-NU-an dari kartu anggota, SK, seragam, atau jabatan.”

Ada dasar sosial yang kuat untuk pandangan tersebut, karena identitas NU memang lama berkembang secara kultural melalui pesantren dan masyarakat.

Bahkan diskursus internal NU sendiri mengakui adanya persoalan formalisasi kaderisasi yang dapat menjauh dari ruh khidmah. Jadi kritik ini tidak boleh langsung dianggap salah.

Masalah muncul jika: anti-formalisme → anti-organisasi.

Solusi: kembalikan organisasi kepada khidmah.

Tipe Ketiga: Kulturalis

Menganggap NU paling kuat ketika berada di tengah masyarakat.

Orang ini percaya:“NU itu ada di masyarakat, bukan di kantor.”

Ini sebenarnya mempunyai dasar kuat. Ada pandangan di lingkungan NU sendiri bahwa kekuatan NU justru harus dilihat dari MWC, ranting, dan anak ranting, bukan hanya PBNU atau PWNU.

Masalahnya bukan pada premis tersebut.Masalahnya muncul kalau:

“Karena NU ada di masyarakat, maka struktur tidak perlu.” Padahal kesimpulan itu tidak otomatis mengikuti premisnya.

Solusi: jangan menjauhkan struktur dari jamaah.

Tipe Keempat: Personalis

Lebih percaya kiai atau tokoh daripada institusi.

Ini lebih kompleks. Kepercayaannya bukan kepada struktur, tetapi kepada figur:

“Selama ada kiai, masyarakat akan mengikuti.” Maka organisasi dianggap sekunder.

Ini bisa bekerja sangat baik selama figur tersebut masih kuat.Tetapi secara sosiologis, ada risiko besar:

figur → kuatorganisasi → lemah

Ketika figur wafat, pindah, pensiun atau kehilangan pengaruh, jaringan sosial yang selama ini bergantung pada figur dapat mengalami kekosongan.

Karena itu organisasi sebenarnya diperlukan untuk mengubah khidmah personal menjadi institusi yang berkelanjutan.

Solusi: bangun hubungan sehat antara keteladanan tokoh dan kelembagaan.

Tipe Kelima: Substantif Anti-Struktur

Menganggap struktur pada dasarnya tidak diperlukan. Ini yang paling problematis.Cirinya:

“Tidak perlu pengurus.”
“Tidak perlu kaderisasi.”
“Tidak perlu rapat.”
“Tidak perlu ranting.”
“Yang penting masyarakat tetap tahlilan.”
“NU sudah ada di masyarakat tanpa organisasi.”

Di sini struktur tidak lagi dikritik karena buruk.Struktur itu sendiri dianggap tidak perlu.

Nah, ini yang perlu diwaspadai.

Solusi: tunjukkan manfaat nyata organisasi.

Tipe kelima merupakan persoalan paling serius.Tetapi jangan buru-buru menyalahkan kader.

Pertanyaan berikutnya harus diajukan: Mengapa ia sampai tidak percaya kepada struktur?

Mengapa pandangan seperti itu bisa menarik?

Karena struktur NU memang kadang memberikan pengalaman yang membuat orang kecewa.

Misalnya seseorang melihat:

  • rapat panjang tetapi hasil sedikit;
  • pengurus berganti tetapi program tidak berubah;
  • jabatan lebih menonjol daripada pelayanan;
  • kader muda hanya menjadi panitia;
  • ranting hanya aktif menjelang konferensi;
  • hubungan dengan jamaah tidak kuat;
  • kegiatan banyak tetapi tidak menjawab problem warga.

Kemudian dia menyimpulkan: “Lihat? Tanpa organisasi pun masyarakat tetap berjalan.”

Secara psikologis, kesimpulan tersebut mudah muncul. Tetapi secara sosiologis ada kesalahan atribusi.

Dia melihat kegagalan struktur tertentu, lalu menyimpulkan bahwa struktur secara keseluruhan tidak diperlukan.

Padahal yang mungkin bermasalah adalah: cara struktur bekerja. Bukan keberadaan struktur itu sendiri.

Justru NU sendiri pernah mengidentifikasi masalah struktural seperti itu

Ini menarik. Dalam hasil Muktamar NU, pernah dicatat sejumlah persoalan seperti kepemimpinan yang terlalu sentralistik, lemahnya koordinasi lembaga/lajnah/banom, serta kaderisasi formal yang belum berjalan baik sehingga banyak bergantung pada kaderisasi alamiah di pesantren.

Jadi kritik terhadap struktur bukan sesuatu yang asing dalam NU. Tetapi responsnya bukan:

“hapus struktur.”Melainkan:perbaiki struktur dan kaderisasinya.

Bahkan dokumen NU kemudian membedakan beberapa jenis kader: kader struktural, kader keulamaan, kader penggerak, kader fungsional, dan kader profesional.

Ini menunjukkan bahwa masalahnya justru dipahami sebagai bagaimana struktur dan kultur kaderisasi dihubungkan, bukan bagaimana salah satunya dibuang.

Dampak pertama paling serius: PAC/MWC dan PRNU menjadi “nama”

Mari kita turunkan sampai tingkat bawah. Bayangkan sebuah desa memiliki:

PRNU secara administratif ada. Ketua ada.Sekretaris ada. SK ada.Tetapi:

 

  • tidak ada pertemuan jamaah;
  • tidak ada kader muda;
  • tidak ada program;
  • tidak ada hubungan dengan masjid;
  • tidak ada komunikasi dengan Muslimat/Fatayat/GP Ansor/IPNU;
  • tidak ada hubungan rutin dengan pesantren;
  • tidak ada pemetaan warga.

Secara administratif: ranting ada. Secara sosiologis: ranting tidak hadir.

Ini yang berbahaya. Sebab struktur organisasi seharusnya menjadi jembatan antara nilai NU dan kehidupan masyarakat, bukan sekadar nomenklatur. NU sendiri pernah menempatkan ranting dan anak ranting sebagai bagian yang sangat penting karena di situlah organisasi bersentuhan langsung dengan warga.

Tetapi ada bahaya kebalikannya juga

Jangan sampai kita mengatakan: “Kader anti-struktur adalah masalah.”Lalu responsnya:“Maka semua orang harus dimasukkan ke struktur.”Itu juga keliru. Karena kalau setiap kegiatan kultural dipaksa menjadi kegiatan struktural, NU bisa kehilangan spontanitas sosialnya. Misalnya warga ingin mengadakan tahlilan.

Tidak perlu menunggu: SK PRNU → disposisi MWC → rapat → surat undangan → program kerja.Itu justru absurd.

Kultural harus tetap punya spontanitas. Yang perlu dilakukan struktur adalah memperkuat ekosistemnya, bukan mengambil alih seluruh kehidupan jamaah.

Di sinilah peran PAC/MWC menjadi sangat strategis Kalau kita bicara tingkat kecamatan, MWC/PAC sebenarnya bisa menjadi jembatan.

Bukan:“Kalian harus mengikuti program kami.”Tetapi:“Apa yang sudah hidup di masyarakat, mari kita kuatkan.” Misalnya di 10 desa terdapat:

  • 30 kelompok yasinan,
  • 15 majelis shalawat,
  • 20 TPQ,
  • 8 pesantren,
  • 10 kelompok pemuda,
  • puluhan jamaah masjid.

Jangan dilihat sebagai kegiatan yang terpisah. Itu adalah ekosistem NU kultural. Tugas organisasi adalah:

memetakan → menghubungkan → melayani → mengembangkan → mengaderkan.

 

 

Dampaknya kepada kader muda bahkan lebih besar

Ini mungkin bagian yang paling penting. Generasi muda tidak selalu otomatis mewarisi identitas NU hanya karena orang tuanya NU.

Generasi tua bisa berkata: “Dulu kita semua NU.” Tetapi anak muda bertanya: “NU itu apa bagi saya?”

Kalau jawaban yang mereka dapat hanya: “NU itu tahlilan.” maka identitas tersebut menjadi terlalu sempit.

Tetapi kalau PRNU menunjukkan: “NU punya pesantren, pendidikan, beasiswa, advokasi masyarakat, ekonomi, lingkungan, literasi digital, kajian keislaman, pengembangan pemuda, dan tradisi Aswaja,” maka NU menjadi ruang aktualisasi. Karena itu kaderisasi bukan sekadar mencari orang untuk mengisi jabatan.

Dokumen NU sendiri menempatkan kaderisasi sebagai proses pembentukan watak, kapasitas, orientasi khidmah, dan regenerasi kepemimpinan.

Hubungannya dengan pesantren sangat menarik

Pesantren adalah salah satu sumber terbesar kekuatan kultural NU. Tetapi ada dua kemungkinan.

Model A

-          Pesantren kuat.

-          NU ranting lemah.

-          Kiai menjadi pusat.

-          Masyarakat mengikuti kiai.

-          Ketika kiai aktif → semuanya bergerak.

-          Ketika kiai tidak aktif → struktur sosial melemah.

Model B

-          Pesantren kuat.

-          NU struktural juga kuat.

-          Kiai memberikan otoritas keilmuan.

-          NU memberikan jaringan organisasi.

-          Kader muda memperoleh pendidikan.

-          Ranting menjadi ruang pengabdian.

Banom menjadi ruang regenerasi.

Ini jauh lebih berkelanjutan. Bahkan dalam dokumen NU sendiri, kaderisasi keulamaan diarahkan untuk menyiapkan calon ulama/Syuriyah di berbagai tingkatan, termasuk lingkungan pesantren dan luar pesantren. Jadi hubungan pesantren–ranting seharusnya bukan kompetisi, tetapi ekosistem.

 

Banom bisa menjadi korban paling awal

Bayangkan PRNU tidak mempunyai kultur organisasi yang kuat.

Apa yang terjadi?

-          Ansor berjalan sendiri.

-          Fatayat berjalan sendiri.

-          Muslimat berjalan sendiri.

-          IPNU berjalan sendiri.

-          IPPNU berjalan sendiri.

Masing-masing punya massa. Masing-masing punya kegiatan.

Tetapi tidak ada orkestrasi generasional.

Padahal secara ideal:

IPNU/IPPNU → pembentukan kader awal

Ansor/Fatayat → penguatan pemuda

NU/Muslimat → penguatan keluarga dan masyarakat

struktur NU → konsolidasi lintas generasi

 Kalau struktur induknya lemah, hubungan antarbanom dapat berubah menjadi sekadar koeksistensi, bukan kaderisasi lintas generasi.

Maka bahaya terbesar “anti-struktur” sebenarnya bukan hari ini

Ini yang sering tidak terlihat. Hari ini: tahlilan masih ramai. Besok: masih ramai. Lima tahun: masih ada. Kemudian orang merasa semuanya baik-baik saja.

Padahal masalah organisasi bisa baru terasa 15–20 tahun kemudian.

Sebab kaderisasi memiliki efek tertunda. NU sendiri pernah menekankan bahwa jika kaderisasi mandek, dampaknya baru terasa puluhan tahun kemudian. Maka:

Kultural membuat NU bertahan hari ini.Sedangkan: Kaderisasi membuat NU bertahan besok.

Ini dua pekerjaan yang berbeda tetapi saling membutuhkan.

Ada sebuah paradoks yang menurut saya sangat menarik

Kader anti-struktur kadang mengatakan:

“Saya tidak perlu organisasi karena saya sudah NU.”

Tetapi identitas “NU” yang dia warisi itu sendiri merupakan hasil transmisi sosial dari generasi sebelumnya.

Siapa yang menjaga pesantrennya?

Siapa yang mengajar fikihnya?

Siapa yang membangun masjidnya?

Siapa yang mengadakan pengajian?

Siapa yang mencetak kitab?

Siapa yang mengader kiai?

Siapa yang menjaga hubungan antarpesantren?

Siapa yang mengorganisasi jamaah?

Ada struktur formal dan informal yang bekerja di belakangnya.

Jadi ada risiko memanfaatkan hasil organisasi sambil menyangkal fungsi organisasi.

 Tetapi struktur juga harus introspeksi

Ini penting supaya analisisnya tidak menjadi propaganda struktural. Kalau struktur NU ingin mengurangi sikap anti-struktur, struktur harus memberi alasan bagi masyarakat untuk membutuhkan struktur. Bukan sekadar berkata: “Kalian harus ikut NU.” Tetapi menunjukkan: Dengan adanya PRNU, persoalan warga bisa lebih mudah diselesaikan.” Misalnya PRNU membantu:

  • pendidikan;
  • kematian dan sosial;
  • kesehatan;
  • ekonomi;
  • pertanian;
  • advokasi warga;
  • pemuda;
  • beasiswa;
  • penguatan masjid;
  • literasi digital;
  • pengajian;
  • hubungan dengan pesantren.

Maka masyarakat akan melihat:

“Oh, ternyata organisasi ini berguna.” Bukan sekadar: “Oh, ini orang-orang yang punya jabatan.”

 

Ranting bukan unit paling kecil yang remeh

Justru sebaliknya. Secara sosiologis, ranting adalah tempat pembuktian apakah NU benar-benar menjadi organisasi masyarakat atau hanya organisasi elite.

Di tingkat PBNU, orang bisa bicara tentang: visi satu abad NU.

Tetapi di tingkat ranting, pertanyaannya sangat sederhana:

“Apakah warga merasa NU hadir ketika mereka membutuhkan?” Kalau jawabannya iya, NU hidup.

Kalau tidak, maka sebesar apa pun struktur di atasnya, ada persoalan koneksi. Karena itu ada pandangan dalam NU bahwa kekuatan sebenarnya berada pada struktur bawah—ranting dan anak ranting—karena di sanalah hubungan langsung dengan umat terjadi.

 Jadi bagaimana seharusnya menghadapi kader “anti-struktur”?

Jangan langsung dilawan dengan struktur. Itu justru akan memperkuat resistensinya.

Lebih efektif dibedakan:

Kalau dia anti-birokrasi: perbaiki birokrasi.

Kalau dia anti-formalisme: jangan menjadikan administrasi sebagai ukuran tunggal ke-NU-an.

Kalau dia kulturalis: ajak dia menghubungkan kultur dengan pelayanan jamaah.

Kalau dia terlalu bergantung pada figur: bangun kaderisasi dan kelembagaan.

Kalau dia benar-benar anti-struktur: ajak berdiskusi tentang keberlanjutan, bukan sekadar jabatan.

Pertanyaan terbaik bukan: “Mengapa Anda tidak mau ikut struktur?”

Tetapi: “Kalau struktur tidak diperlukan, bagaimana tradisi ini akan diwariskan kepada generasi ketiga setelah kita?”

Itu pertanyaan yang jauh lebih sulit dijawab. Dan di sinilah konsep Aswaja memberikan jalan tengah

Khittah NU menempatkan NU sebagai jam'iyah diniyah-ijtima'iyah, dengan ulama sebagai pembimbing organisasi, tetapi sekaligus menegaskan perlunya kemampuan menyesuaikan diri dengan perubahan yang membawa kemaslahatan, mengembangkan masyarakat, dan menjunjung ilmu serta kebersamaan.  Jadi struktur NU idealnya bukan: birokrasi yang mengendalikan masyarakat. Tetapi: organisasi yang mengabdi kepada jamaah. Dan kultur NU bukan: masyarakat yang berjalan tanpa organisasi. Tetapi: kekuatan sosial yang menjadi sumber kehidupan organisasi.

Kalau dibuat menjadi satu formula

PESANTREN
↓ ilmu, sanad, ulama

KULTUR/JAMAAH
↓ tradisi, solidaritas, amaliah

RANTING/ANAK RANTING
↓ pengorganisasian basis

PAC/MWC
↓ konsolidasi antar-desa

PC/PW/PB
↓ kebijakan, jaringan, sumber daya

BANOM & LEMBAGA
↓ spesialisasi dan kaderisasi

Dan semuanya kembali ke:

JAMAAH → KHIDMAH → KEMASLAHATAN.

Kalau salah satu mata rantai putus, ekosistem terganggu.

Ini kritik yang harus didengar. Tetapi jika kritik tersebut berkembang menjadi:

“Karena kultur bisa berjalan tanpa struktur, maka struktur tidak diperlukan,”

maka terjadi kekeliruan sosiologis. Sebab fungsi struktur bukan sekadar membuat tahlilan terjadi.

Fungsi struktur adalah mengubah kekuatan sosial yang tersebar menjadi kemampuan kolektif yang berkelanjutan. Dan bagi masa depan NU, medan pertarungan sebenarnya bukan PBNU. Bukan pula gedung PCNU.

Medannya adalah ranting. Karena di rantinglah pertanyaan paling mendasar dijawab:

Apakah anak muda masih mau menjadi NU?
Apakah pesantren masih terhubung dengan jamaah?
Apakah banom melahirkan kader untuk NU?
Apakah tradisi Aswaja masih dipahami, bukan sekadar dilakukan?
Apakah masyarakat merasa NU hadir ketika mereka membutuhkan?

Kalau lima pertanyaan itu terjawab, maka NU kultural dan NU struktural sebenarnya tidak perlu dipertentangkan.

 

BAB 9

MENGAPA KADER TIDAK PERCAYA KEPADA STRUKTUR?

Kadang-kadang masalah bukan berada pada kader.

Masalahnya berada pada pengalaman kader.

Seorang kader akan bertanya:

“Kalau saya ikut NU, apa yang saya dapat?”

Bukan selalu uang.

Yang dimaksud bisa berupa:

  • ilmu;
  • jaringan;
  • pengalaman;
  • kesempatan mengabdi;
  • pendidikan;
  • kepemimpinan;
  • persaudaraan;
  • perlindungan;
  • ruang aktualisasi.

Jika organisasi tidak memberikan itu, kader akan mencari ruang lain.

Maka anti-struktur kadang merupakan gejala dari struktur yang gagal menghadirkan manfaat.

Ini penting.

Jangan hanya berkata:

“Kader sekarang tidak mau berorganisasi.”

Tanyakan:

“Apa yang organisasi tawarkan kepada kader?”

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 10

KETIKA FIGUR LEBIH DIPERCAYA DARIPADA ORGANISASI

Dalam kultur pesantren, penghormatan kepada kiai adalah kekuatan besar.

Namun organisasi memiliki persoalan yang berbeda.

Kiai memiliki kharisma.

Organisasi memiliki sistem.

Keduanya tidak perlu dipertentangkan.

Kiai dapat menjadi sumber keteladanan.

Organisasi memastikan keteladanan tersebut diterjemahkan menjadi kerja kolektif.

Bahaya muncul ketika organisasi sepenuhnya bergantung kepada satu figur.

Ketika figur pergi, organisasi ikut berhenti.

Maka kaderisasi harus mengubah:

“organisasi karena tokoh”

menjadi:

“organisasi yang berjalan karena nilai, sistem, kader dan keteladanan tokoh.”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 11

STRUKTUR YANG TIDAK MENGHADIRKAN MANFAAT

Struktur akan ditinggalkan jika hanya menghasilkan:

  • rapat;
  • undangan;
  • seremonial;
  • foto;
  • jabatan;
  • proposal;
  • pergantian kepengurusan.

Kader membutuhkan pengalaman bahwa NU hadir untuk mereka dan masyarakat.

Maka ukuran keberhasilan organisasi bukan:

berapa banyak rapat dilakukan?

Tetapi:

berapa banyak masalah masyarakat yang dibantu?

Bukan:

berapa banyak SK diterbitkan?

Tetapi:

berapa banyak kader yang tumbuh?

Bukan:

berapa banyak pengurus dilantik?

Tetapi:

berapa banyak pengurus yang bekerja?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAGIAN III

TITIK RAWAN REGENERASI

BAB 12

RANTING: JANTUNG NU

Jika NU ingin mengetahui apakah dirinya benar-benar hidup, jangan hanya melihat kantor cabang.

Lihat ranting.

Ranting adalah tempat NU bertemu dengan:

  • jamaah;
  • masjid;
  • mushala;
  • pengajian;
  • keluarga;
  • pemuda;
  • perempuan;
  • petani;
  • pedagang;
  • pekerja;
  • pesantren;
  • masyarakat desa.

Karena itu ranting bukan sekadar struktur paling bawah.

Ranting adalah struktur yang paling dekat dengan realitas kehidupan warga.

Ranting yang hidup tidak harus memiliki kantor megah.

Ranting yang hidup memiliki:

  • jamaah;
  • kader;
  • kegiatan;
  • komunikasi;
  • kepedulian;
  • pendataan;
  • regenerasi;
  • pelayanan.

 

 

 

 

BAB 13

MWCNU: JEMBATAN YANG SERING TERLUPAKAN

MWCNU memiliki posisi strategis.

Ia menjadi jembatan antara PCNU dan ranting.

Jika PCNU kuat tetapi MWCNU lemah, program akan sulit turun.

Jika ranting hidup tetapi MWCNU tidak mampu mengkoordinasikan, energi akan berjalan sendiri-sendiri.

MWCNU harus menjadi:

pusat konsolidasi, bukan sekadar tempat pelantikan.

 

BAB 14

PESANTREN DAN JAM'IYAH

Pesantren adalah sumber daya manusia NU.

Jam'iyah adalah jaringan pengabdian NU.

Pesantren tidak harus menjadi kantor NU.

NU juga tidak boleh mengintervensi pesantren secara berlebihan.

Yang diperlukan adalah hubungan saling menguatkan.

Pesantren dapat menjadi:

  • pusat pendidikan kader;
  • pusat keilmuan;
  • pusat dakwah;
  • pusat literasi;
  • pusat penguatan Aswaja.

Sementara NU dapat membantu:

  • jaringan sosial;
  • pengorganisasian;
  • pelayanan;
  • kerja sama;
  • pengembangan kelembagaan;
  • konektivitas antarlembaga.

 

BAB 15

BANOM DAN REGENERASI LINTAS GENERASI

Banom tidak boleh berjalan sebagai pulau-pulau terpisah.

IPNU-IPPNU harus menjadi pintu masuk generasi pelajar.

GP Ansor menjadi ruang pematangan pemuda.

Fatayat dan Muslimat memiliki peran besar dalam penguatan keluarga dan masyarakat.

Banser memiliki fungsi pengabdian dan sosial yang khas.

Pergunu, ISNU dan badan/lembaga lain memiliki bidang pengabdian masing-masing.

Semua harus bertemu dalam satu ekosistem:

Kader hari ini harus mempunyai jalan menuju tanggung jawab yang lebih besar esok hari.

 

BAB 16

KADER MUDA DAN PERTANYAAN “NU ITU APA BAGI SAYA?”

Generasi muda tidak cukup diberi jawaban:

“NU itu tahlilan.”

Mereka harus melihat NU sebagai:

  • ruang belajar;
  • ruang pengabdian;
  • ruang kepemimpinan;
  • ruang jaringan;
  • ruang kreativitas;
  • ruang kewirausahaan;
  • ruang pendidikan;
  • ruang kebangsaan;
  • ruang membangun masa depan.

Jika NU hanya hadir dalam bentuk tradisi, generasi digital dapat menganggap NU sebagai masa lalu.

Padahal NU seharusnya menjadi jembatan antara warisan dan masa depan.

BAB 17

ADMINISTRASI SEBAGAI INSTRUMEN KHIDMAH

Administrasi sering dibenci. Tetapi sebenarnya administrasi hanyalah alat.

Administrasi yang buruk memang merepotkan.

Administrasi yang baik justru membebaskan organisasi dari kekacauan.

Data anggota membantu kaderisasi.

Dokumentasi membantu sejarah.

Legalitas membantu perlindungan aset.

Surat-menyurat membantu komunikasi.

Laporan membantu evaluasi.

Maka prinsipnya:

Jangan membirokratisasikan khidmah, tetapi jangan pula mengkhidmahkan kekacauan.

Administrasi harus sederhana, efektif dan bermakna.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAGIAN IV

BAHAYA MEMISAHKAN KULTUR DAN STRUKTUR

BAB 18

KULTURAL TANPA STRUKTURAL

Bayangkan NU kultural sangat kuat.

Tahlilan ramai.

Masjid aktif.

Pesantren hidup.

Pengajian berkembang.

Tetapi tidak ada kaderisasi.

Tidak ada pendataan.

Tidak ada regenerasi.

Tidak ada pengelolaan aset.

Tidak ada dokumentasi.

Tidak ada sistem pendidikan kader.

Apa yang terjadi?

Tradisi masih hidup.

Tetapi organisasi perlahan kehilangan kemampuan mewariskan tradisi tersebut secara sadar.

Ini disebut:

ketahanan kultural tanpa ketahanan institusional.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 19

STRUKTURAL TANPA KULTURAL

Sebaliknya, bayangkan NU memiliki:

  • kantor;
  • struktur lengkap;
  • administrasi rapi;
  • banyak rapat;
  • banyak surat;
  • banyak jabatan.

Tetapi masyarakat tidak mengenal pengurus.

Tidak ada jamaah.

Tidak ada pengajian.

Tidak ada pelayanan.

Tidak ada hubungan dengan pesantren.

Ini adalah:

struktur tanpa ruh.

Organisasi semacam ini mungkin terlihat aktif di atas kertas tetapi lemah dalam kehidupan sosial.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 20

KETIKA NU HANYA MENJADI TRADISI

Tradisi dapat bertahan lama. Tetapi tidak ada jaminan ia otomatis diwariskan dengan baik.

Generasi muda membutuhkan penjelasan.

Mereka perlu tahu:

Mengapa kita tahlilan?

Mengapa kita menghormati ulama?

Mengapa pesantren penting?

Mengapa Aswaja perlu dijaga?

Mengapa NU memiliki organisasi?

Mengapa kita perlu kader?

Jika semua hanya dijawab:

“Karena dari dulu begitu.”

maka generasi baru dapat kehilangan hubungan intelektual dengan tradisinya.

Tradisi harus diwariskan dengan makna.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 21

KETIKA NU HANYA MENJADI BIROKRASI

Kebalikan dari romantisme kultur adalah penyakit birokrasi.

Organisasi mulai mengukur keberhasilan dari:

  • jumlah kegiatan;
  • jumlah foto;
  • jumlah rapat;
  • jumlah spanduk;
  • jumlah pelantikan.

Padahal inti organisasi adalah perubahan.

Jika masyarakat tidak berubah menjadi lebih baik, kader tidak berkembang, dan pelayanan tidak meningkat, maka kegiatan hanya menjadi kegiatan.

NU harus menghindari dua ekstrem:

kulturalisme tanpa organisasi

dan

organisasionalisme tanpa kultur.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 22

KRISIS REGENERASI YANG TIDAK TERLIHAT

Krisis regenerasi tidak selalu tampak hari ini.

Hari ini semua masih baik.

Tokoh-tokoh masih ada.

Kiai masih aktif.

Pengajian masih ramai.

Tetapi pertanyaannya:

siapa yang akan mengurusnya 15 tahun lagi?

Di sinilah pentingnya kaderisasi.

Kaderisasi bukan agenda tambahan.

Kaderisasi adalah cara NU memastikan masa depan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAGIAN V

JALAN REKONSTRUKSI

BAB 23

MENJAM'IYAHKAN KULTUR TANPA MEMBIROKRATISASIKAN KULTUR

Inilah tesis utama buku ini.

Kultur harus tetap hidup secara alamiah.

Jangan semua tahlilan harus menunggu surat.

Jangan semua pengajian harus menunggu rapat.

Jangan semua kegiatan masyarakat harus diseragamkan.

Namun struktur harus hadir ketika diperlukan untuk:

  • menguatkan;
  • mendata;
  • melindungi;
  • menghubungkan;
  • mengembangkan;
  • mewariskan.

Maka:

Menjam'iyahkan kultur bukan berarti membirokratisasikan kultur.

Organisasi harus menjadi rumah. Bukan pagar.

 

 

 

 

 

 

BAB 24

MENGEMBALIKAN MAKNA KHIDMAH

Khidmah berarti pengabdian.

Jabatan bukan hadiah.

Jabatan adalah amanah.

Pengurus bukan kelas sosial.

Pengurus adalah pelayan organisasi.

Maka seorang pengurus harus bertanya:

“Apa yang sudah saya kerjakan untuk NU?”

bukan:

“Apa yang NU berikan kepada saya?”

Jika mentalitas ini kembali, anti-struktur akan berkurang.

Sebab kader akan melihat struktur sebagai jalan pengabdian.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 25

MEMBANGUN RANTING YANG HIDUP

Ranting ideal tidak perlu melakukan seratus kegiatan.

Cukup mulai dari sepuluh hal:

  1. memiliki pengurus aktif;
  2. memiliki kontak pengurus;
  3. memiliki data jamaah;
  4. memiliki kegiatan rutin;
  5. memiliki hubungan dengan masjid/mushala;
  6. memiliki kader muda;
  7. terhubung dengan banom;
  8. memiliki hubungan dengan tokoh agama;
  9. memiliki agenda sosial;
  10. melakukan evaluasi rutin.

Ranting yang memiliki sepuluh hal ini akan lebih mudah berkembang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 26

MEMBANGUN EKOSISTEM KADERISASI

Kaderisasi tidak boleh hanya berupa pelatihan.

Kaderisasi harus menjadi perjalanan.

Tahap pertama:

Kenal NU.

Tahap kedua:

Kenal Aswaja.

Tahap ketiga:

Kenal tradisi keilmuan.

Tahap keempat:

Belajar berorganisasi.

Tahap kelima:

Diberi tanggung jawab.

Tahap keenam:

Diberi ruang memimpin.

Tahap ketujuh:

Membina kader berikutnya.

Inilah siklus regenerasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 27

STRUKTUR YANG MELAYANI, BUKAN DILAYANI

Struktur harus turun.

Pengurus PCNU harus mengetahui kondisi MWCNU.

MWCNU harus mengetahui kondisi ranting.

Ranting harus mengetahui kebutuhan jamaah.

Lembaga harus mengetahui persoalan bidangnya.

Banom harus mengetahui kebutuhan kader.

Dengan demikian, organisasi menjadi jaringan pelayanan.

Bukan piramida kekuasaan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 28

MANIFESTO KADER NU MASA DEPAN

Kader NU masa depan harus memegang sekurang-kurangnya sepuluh prinsip:

Pertama

Cinta tradisi, tetapi terbuka terhadap perubahan.

Kedua

Menghormati kiai, tetapi mampu bekerja secara sistematis.

Ketiga

Aktif di masyarakat, tetapi tidak meninggalkan organisasi.

Keempat

Tidak anti-struktur, tetapi kritis terhadap struktur yang tidak sehat.

Kelima

Tidak mengejar jabatan, tetapi siap menerima amanah.

Keenam

Mampu mengaji dan mampu mengorganisasi.

Ketujuh

Mampu berdakwah dan mampu melayani.

Kedelapan

Menguasai tradisi dan teknologi.

Kesembilan

Menghormati generasi tua dan memberi ruang kepada generasi muda.

Kesepuluh

Menganggap kaderisasi sebagai ibadah sosial.

 

BAGIAN VI

PENUTUP

BAB 29

NU MASA DEPAN: DARI STRUKTUR MENUJU PERADABAN

NU tidak boleh berhenti sebagai organisasi.

Organisasi hanyalah instrumen.

Tujuan akhirnya adalah kemaslahatan.

Ketika struktur berjalan sehat, ia dapat menjadi mesin peradaban.

Pesantren menghasilkan ilmu.

Kader menghasilkan kepemimpinan.

Lembaga menghasilkan pelayanan.

Banom menghasilkan regenerasi.

Ranting menghasilkan kedekatan sosial.

MWCNU menghasilkan konsolidasi.

PCNU menghasilkan koordinasi.

PWNU dan PBNU memberikan arah dan jejaring yang lebih luas.

Semua harus terhubung.

Itulah jam'iyah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 30

JANGAN WARISKAN HANYA AMALIAH, WARISKAN PERJUANGAN

Suatu hari generasi kita akan pergi.

Yang tertinggal bukan jabatan.Bukan SK. Bukan foto pelantikan. Bukan spanduk.

Yang tertinggal adalah apa yang kita wariskan.

Jika kita hanya mewariskan amaliah, generasi berikutnya mungkin akan tetap tahlilan.

Tetapi belum tentu mereka memahami mengapa tradisi itu harus dijaga.

Jika kita mewariskan ilmu, kaderisasi, organisasi, tradisi dan nilai, mereka bukan hanya menjalankan. Mereka akan meneruskan.

Karena itu, jangan hanya berkata:“NU akan tetap hidup.”

Tanyakan:“Dalam bentuk apa NU akan hidup?”

Jangan hanya berkata:“Tahlilan akan tetap ada.”

Tanyakan:“Siapa yang akan menjaga nilai di balik tahlilan?”

Jangan hanya berkata:“Pesantren akan tetap ada.”

Tanyakan:“Siapa yang akan menghubungkan pesantren dengan masyarakat?”

Dan jangan hanya berkata:

“NU tidak perlu diurus.”Sebab organisasi yang tidak diurus mungkin memang tidak langsung mati.

Tetapi organisasi yang tidak melakukan kaderisasi dapat kehilangan masa depan tanpa disadari.

Maka kalimat penutup buku ini sederhana:

NU kultural harus tetap hidup.

NU struktural harus tetap sehat.

Keduanya harus saling menguatkan.

Sebab NU bukan sekadar warisan yang harus dijaga.

NU adalah amanah yang harus diteruskan.

 

EPILOG

Untuk Mereka yang Pernah Berkata “Saya NU, Tapi Tidak Perlu Organisasi”

Barangkali Anda benar ketika kecewa kepada organisasi.

Mungkin Anda pernah melihat rapat yang tidak menghasilkan apa-apa.

Mungkin Anda pernah melihat jabatan diperebutkan.

Mungkin Anda pernah melihat administrasi menjadi beban.

Mungkin Anda pernah merasa bahwa masyarakat lebih hidup daripada kantor NU.

Semua itu bisa menjadi pengalaman yang valid.

Tetapi jangan biarkan kekecewaan terhadap praktik organisasi membuat kita kehilangan kebutuhan terhadap organisasi.

Perbaiki strukturnya.Jangan tinggalkan perjuangannya.

Kritik organisasinya.Jangan tinggalkan jamaahnya.

Sederhanakan birokrasinya.Jangan matikan sistemnya.

Kembalikan struktur kepada fungsi awalnya: melayani jamaah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BIOGRAFI PENULIS

M. NASUCHA ABI SYAKUR, ST., MM.

Praktisi organisasi Nahdlatul Ulama, penggerak kaderisasi, pengelola kelembagaan, dan aktivis pelayanan sosial-keagamaan.

M. Nasucha Abi Syakur dikenal dalam lingkungan Nahdlatul Ulama Lampung Tengah sebagai salah satu pengurus yang bergerak pada wilayah administrasi organisasi, kelembagaan, kaderisasi dan penguatan pelayanan masyarakat.

Dalam struktur PCNU Lampung Tengah masa khidmah 2022–2027, nama Muhammad Nasucha Abi Syakur tercatat sebagai Wakil Sekretaris PCNU Lampung Tengah.

Posisi tersebut memperlihatkan bahwa pengabdian beliau berada pada wilayah yang sangat dekat dengan tema buku ini: bagaimana struktur organisasi tidak berhenti pada administrasi, tetapi harus mampu menjadi alat kaderisasi dan pelayanan.

JEJAK PENGABDIAN DAN KIPRAH ORGANISASI

1. Pengabdian di PCNU Lampung Tengah

M. Nasucha Abi Syakur tercatat dalam struktur PCNU Lampung Tengah periode 2022–2027 sebagai Wakil Sekretaris.

Posisi sekretariat memiliki arti penting dalam organisasi NU karena menjadi salah satu pusat koordinasi administrasi, komunikasi, dokumentasi, dan pengawalan program organisasi. Namun kiprah beliau tidak hanya tampak dalam daftar kepengurusan.

2. Penguatan Administrasi dan Organisasi NU

Dalam kegiatan turba PCNU Lampung Tengah ke MWCNU, M. Nasucha Abi Syakur menyampaikan pentingnya pengurus NU pada semua tingkatan memahami AD/ART NU hasil Muktamar ke-34 serta peraturan perkumpulan yang menjadi pedoman organisasi. struktur harus dipahami agar dapat dijalankan dengan benar. Organisasi tidak cukup dicintai. Organisasi juga harus dipahami.

3. Keterlibatan dalam Kaderisasi PD-PKPNU

Kiprah yang paling dekat dengan tema buku ini adalah keterlibatan M. Nasucha Abi Syakur dalam proses kaderisasi. Dalam agenda sosialisasi PD-PKPNU PCNU Lampung Tengah, ia disebut sebagai bagian dari tim yang bersama Admin Siskader NU melakukan sosialisasi program kaderisasi kepada jajaran MWCNU, banom dan lembaga NU.

Kegiatan tersebut diarahkan untuk menyiapkan pelaksanaan PD-PKPNU di sejumlah MWCNU Di Kabupaten Lampung Tengah.

Kaderisasi merupakan salah satu wilayah pengabdian organisasi yang memang dikerjakan.

 

4. Penguatan Lembaga Takmir Masjid NU

M. Nasucha Abi Syakur juga tercatat terlibat dalam pengembangan program Lembaga Takmir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU) PCNU Lampung Tengah.

Dalam sebuah kegiatan yang membahas hukum dan wakaf, ia menyampaikan beberapa capaian program LTMNU  Di beberapa Kecamatan, antara lain:

  • pendataan masjid dan mushala;
  • plangisasi masjid dan mushala NU;
  • pelatihan penyembelihan hewan;
  • pelatihan pemulasaraan jenazah;
  • kegiatan bersih-bersih masjid.

Kiprah ini penting karena menunjukkan bagaimana organisasi dapat diterjemahkan menjadi pelayanan konkret di masyarakat.

5 . KonseptorProgram “Kang Jalal” dan Pelatihan Tukang Jagal Halal

Pada 2025, LTM PCNU Lampung Tengah menjalankan program Kang Jalal, yaitu pelatihan tukang jagal halal yang dilaksanakan di beberapa zona wilayah Lampung Tengah.

Struktur hadir bukan untuk mengatur tradisi masyarakat dari atas, tetapi untuk memberikan layanan, peningkatan kapasitas dan penguatan kompetensi masyarakat.

6. Perhatian terhadap Kader Muda

M. Nasucha Abi Syakur juga tercatat hadir dalam kegiatan PC IPNU-IPPNU Lampung Tengah.

Kehadirannya bersama jajaran pengurus NU dan kader pelajar menunjukkan keterhubungan antara struktur NU dengan proses regenerasi generasi muda. Mereka adalah calon pemilik masa depan jam'iyah.

7. Keterlibatan dalam Pembinaan GP Ansor

Dalam kegiatan PKD GP Ansor Kecamatan Selagai Lingga, M. Nasucha Abi Syakur tercatat sebagai salah satu tokoh NU yang hadir bersama jajaran pengurus dan kader Ansor.

PKD sendiri merupakan bagian dari proses pendidikan kader kepemimpinan.

Keterlibatan pengurus NU dalam kegiatan semacam ini memperlihatkan pentingnya kesinambungan antara struktur NU dan badan otonomnya.

8. Pengabdian melalui Pendidikan Al-Qur'an

Di tingkat masyarakat, nama M. Nasucha Abi Syakur juga tercatat sebagai sekretaris TPA Salsabila, Purwosari, Kecamatan Padang Ratu, Lampung Tengah, untuk periode 2024–2029.

Sebagai ketua Dan Pelopor  TPQ ANNAJAH Sendang agung sekaligus Penggagas Rumah Belajar untuk Pra Sekolah SD, MI Di Sendang Agung.

Dokumen lain mencantumkan beliau sebagai sekretaris sekaligus operator TPA tersebut.

Ini memperlihatkan dimensi lain dari pengabdian: organisasi tidak selalu harus berada dalam gedung NU.

Pengabdian NU juga dapat berlangsung melalui pendidikan anak-anak di lingkungan masyarakat.

9. Menulis dan Menyusun Gagasan Pemberdayaan Masjid

Nama M. Nasucha Abi Syakur juga muncul sebagai penulis buku kecil berjudul:

“Dari Masjidnya Kita Makmurkan Buminya.”

Tulisan tersebut membahas pengelolaan dan pemberdayaan masjid serta posisi Lembaga Takmir Masjid NU dalam pelayanan sosial-keagamaan.

Hal ini memperkuat satu garis pemikiran:

masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat pemberdayaan masyarakat.

PROFIL PEMIKIRAN PENULIS

Jika seluruh jejak pengabdian tersebut dibaca sebagai satu kesatuan, tampak beberapa tema yang berulang.

Pertama: organisasi harus bekerja. Bukan hanya memiliki struktur.

Kedua: kaderisasi harus berjalan. Bukan hanya pelantikan.

Ketiga: lembaga harus menghasilkan manfaat. Bukan sekadar nama.

Keempat: masjid harus diberdayakan. Bukan sekadar bangunan.

Kelima: administrasi harus menjadi alat pelayanan. Bukan tujuan.

Keenam: generasi muda harus diberi ruang. Bukan hanya diundang sebagai peserta.

Dari sinilah buku Kader NU Anti-Struktural menemukan relevansinya.

Buku ini bukan kritik dari luar organisasi. Ia adalah refleksi dari dalam.

 

 

 

BONUS INDIKATOR

10 PRINSIP PEMBENAHAN RANTING NU

Sebagai hasil praktis buku ini, setiap ranting dapat menggunakan sepuluh indikator:

  1. Apakah pengurus masih aktif?
  2. Apakah jamaah terdata?
  3. Apakah ada kegiatan rutin?
  4. Apakah ada kader muda?
  5. Apakah banom aktif?
  6. Apakah ranting memiliki hubungan dengan masjid/mushala?
  7. Apakah ada komunikasi rutin dengan MWCNU?
  8. Apakah ada program sosial?
  9. Apakah administrasi dasar tersedia?
  10. Apakah ada kader yang disiapkan menggantikan pengurus?

Jika jawabannya mayoritas “tidak”, masalahnya bukan jamaah.

Masalahnya adalah kelembagaan yang belum berhasil menghubungkan jamaah dengan jam'iyah.

ROADMAP KADERISASI NU LIMA TAHUN

Tahun Pertama

Pendataan

  • data pengurus;
  • data jamaah;
  • data banom;
  • data pesantren;
  • data masjid/mushala;
  • data kader muda.

Tahun Kedua

Pendidikan

  • Aswaja;
  • ke-NU-an;
  • organisasi;
  • kepemimpinan;
  • administrasi;
  • literasi digital.

Tahun Ketiga

Penugasan Kader mulai diberi tanggung jawab nyata.

Tahun Keempat

Kepemimpinan Kader mulai memimpin program.

Tahun Kelima

Regenerasi Kader baru mengambil sebagian tanggung jawab generasi sebelumnya.

Dengan demikian: Kaderisasi bukan mencetak orang untuk mengisi struktur. Kaderisasi adalah menyiapkan manusia untuk melanjutkan peradaban.

12 CIRI RANTING YANG SEHAT

Ranting sehat biasanya memiliki:

  1. pengurus yang dikenal masyarakat;
  2. komunikasi aktif;
  3. hubungan dengan tokoh agama;
  4. hubungan dengan banom;
  5. kegiatan rutin;
  6. kader muda;
  7. kegiatan sosial;
  8. administrasi sederhana;
  9. pendataan;
  10. hubungan dengan MWCNU;
  11. evaluasi;
  12. regenerasi.

KESIMPULAN BESAR BUKU

Perdebatan antara NU kultural dan NU struktural sesungguhnya tidak perlu terjadi jika kita memahami DNA NU.

NU bukan hanya struktur. NU juga bukan hanya kultur. NU adalah pertemuan antara:

ulama + jamaah + tradisi + ilmu + pesantren + organisasi + kaderisasi + pelayanan + kebangsaan.

Karena itu: NU struktural tanpa NU kultural akan kehilangan akar. NU kultural tanpa NU struktural akan kehilangan sistem.

Dan: NU tanpa kaderisasi akan kehilangan masa depan.

Maka tugas generasi sekarang bukan memilih antara kultur atau struktur.

Tugas kita adalah membangun struktur yang mampu menjaga kultur, dan membangun kultur yang memberi kehidupan kepada struktur.

Itulah jalan tengah Nahdlatul Ulama.

TENTANG PENULIS

M. NASUCHA ABI SYAKUR, ST., MM.

Wakil Sekretaris Bidang Organisasi, Lembaga dan Kader

Praktisi organisasi dan kaderisasi Nahdlatul Ulama Lampung Tengah. Aktif dalam penguatan administrasi dan kelembagaan NU, kaderisasi PD-PKPNU, pengembangan Lembaga Takmir Masjid NU, pelayanan sosial-keagamaan, pembinaan kader muda, serta pendidikan masyarakat.

Melalui pengalaman organisasi dan keterlibatannya dalam berbagai program tersebut, ia menaruh perhatian pada hubungan antara jamaah dan jam'iyah, kultur dan struktur, kaderisasi dan regenerasi, serta organisasi dan pelayanan masyarakat.

Buku Kader NU Anti-Struktural merupakan refleksi atas kegelisahan tersebut sekaligus tawaran gagasan agar NU tetap menjadi organisasi yang berakar pada kultur masyarakat, tetapi tidak kehilangan kemampuan mengorganisasi, mendidik, melayani dan mewariskan perjuangan kepada generasi berikutnya.

MOTTO PENULIS

“Jangan menjam'iyahkan kultur sampai kultur kehilangan spontanitasnya. Tetapi jangan pula membiarkan kultur berjalan sendirian sampai kita kehilangan kaderisasi, konsolidasi dan kesinambungan.”

MOTTO BUKU

“NU kultural memberikan ruh. NU struktural memberikan arah. Kader memastikan keduanya tetap hidup.”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

EPILOG TERAKHIR

 

Pada akhirnya, buku ini bukan tentang siapa yang salah. Bukan tentang siapa yang struktural.

Bukan tentang siapa yang kultural. Bukan pula tentang siapa yang lebih NU.

Buku ini tentang satu pertanyaan:

Apakah NU yang kita cintai hari ini akan tetap mampu menjadi NU yang dibutuhkan masyarakat di masa depan?

Jawabannya bergantung pada apa yang kita lakukan hari ini.

Jika hari ini kita hanya menjaga amaliah, mungkin amaliah akan tetap hidup.

Jika hari ini kita hanya menjaga struktur, mungkin struktur akan tetap berdiri.

Tetapi jika hari ini kita menjaga:

ilmu, tradisi, jamaah, jam'iyah, kaderisasi, pesantren, lembaga, banom, ranting dan pelayanan,

maka kita bukan sekadar menjaga NU. Kita sedang menyiapkan peradaban.

Dan kepada generasi setelah kita, kita ingin meninggalkan pesan:

Jangan hanya menjadi pewaris nama NU.

Jadilah penerus perjuangan NU.Jangan hanya mengenal amaliahnya.

Pahami nilai dan sejarahnya.Jangan hanya mengkritik strukturnya.

Perbaikilah strukturnya.Jangan hanya mencintai NU sebagai tradisi.

Cintailah NU sebagai amanah.

Karena pada akhirnya:

NU bukan milik generasi kita.Kita hanya sedang memegang amanahnya.

Dan tugas setiap kader adalah menyerahkan amanah itu kepada generasi berikutnya dalam keadaan lebih kuat daripada ketika ia menerimanya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

 

Sumber rujukan utama NU ONLINE LAMTENG

  • Struktur PCNU Lampung Tengah masa khidmah 2022–2027 dan posisi Muhammad Nasucha Abi Syakur sebagai Wakil Sekretaris.
  • Pembinaan administrasi/organisasi MWCNU serta penekanan pada AD/ART dan Perkum NU.
  • Sosialisasi dan pelaksanaan PD-PKPNU serta keterlibatan dalam tim Siskader.
  • Program LTMNU, pendataan masjid/mushala dan berbagai pelayanan keagamaan.
  • Program pelatihan tukang jagal halal “Kang Jalal”.
  • Kegiatan IPNU-IPPNU dan keterlibatan dalam pembinaan generasi muda NU.
  • TPA Salsabila Purwosari dan posisi M. Nasucha Abi Syakur sebagai sekretaris.
  • Ketua TPQ ANNAJAH SENDANG AGUNG
  • Penggagas Rumah Belajar ANNAJAH

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar