
KADER NU ANTI-STRUKTURAL
Ketika Kultur Berjalan Sendiri dan Jam'iyah Kehilangan Kader
Membaca Relasi NU Kultural dan NU Struktural, Jam'iyah dan
Jamaah, Pesantren, Ranting, Banom, Kaderisasi, serta Masa Depan Nahdlatul Ulama
M.
NASUCHA ABI SYAKUR
Wakil
Sekretaris Bidang Organisasi, Lembaga dan Kader
SENDANGAGUNG 2024
CATATAN PENULIS
Buku ini lahir dari kegelisahan.
Kegelisahan terhadap satu kalimat
yang semakin sering terdengar di lingkungan Nahdlatul Ulama:
“NU tidak diurus pun tetap jalan.”
Kalimat tersebut mungkin lahir dari
pengalaman. Di kampung-kampung, pengajian tetap berlangsung. Yasinan tetap
berjalan. Tahlilan tetap hidup. Shalawatan tetap ramai. Maulidan tetap
dilaksanakan. Masjid dan mushala tetap dipenuhi jamaah. Pesantren tetap
mengaji.
Lalu muncul kesimpulan:
“Kalau amaliah NU sudah hidup di
masyarakat, untuk apa NU harus terlalu sibuk mengurus struktur?”
Di sinilah buku ini dimulai.
Saya tidak menulis buku ini untuk
menyerang mereka yang kritis terhadap struktur NU. Kritik terhadap birokrasi,
administrasi, rapat yang berlebihan, perebutan jabatan, formalitas, dan
organisasi yang kehilangan manfaat adalah kritik yang diperlukan.
Namun, kritik terhadap cara
berorganisasi tidak boleh berubah menjadi penolakan terhadap fungsi
organisasi.
Sebab NU bukan hanya kumpulan
amaliah.
NU adalah tradisi keilmuan, sanad
keulamaan, jamaah, pesantren, dakwah, pendidikan, pelayanan sosial, kebangsaan,
dan sekaligus jam'iyah.
Karena itu buku ini menggunakan
istilah “kader NU anti-struktural” bukan sebagai cap atau penghukuman
terhadap seseorang.
Istilah itu adalah kategori analitis
untuk membaca sebuah gejala:
ketika seorang kader merasa cukup
menjadi bagian dari kultur NU, tetapi mulai memandang struktur NU sebagai
sesuatu yang tidak penting, tidak berguna, bahkan tidak diperlukan.
Di titik itulah kita perlu berhenti
sejenak.
Bukan untuk menyalahkan.
Tetapi untuk bertanya:
Apa yang sebenarnya sedang terjadi
pada jam'iyah kita?
DAFTAR ISI
Bagian
I — Memahami DNA NU
- NU: Tradisi yang Menjadi Jam'iyah
- Jam'iyah dan Jamaah: Dua Sisi yang Tidak Boleh
Dipisahkan
- Aswaja Lebih Luas daripada Amaliah
- Mengapa NU Memerlukan Struktur?
- Dari Pesantren Menuju Organisasi
Bagian
II — Fenomena Kader NU Anti-Struktural
- “NU Tidak Diurus Pun Tetap Jalan”
- Dari Kritik Birokrasi Menuju Anti-Struktur
- Lima Tipe Kader Anti-Struktur
- Mengapa Kader Tidak Percaya kepada Struktur?
- Ketika Figur Lebih Dipercaya daripada Organisasi
- Struktur yang Tidak Menghadirkan Manfaat
Bagian
III — Titik Rawan Regenerasi
- Ranting: Jantung NU
- MWCNU: Jembatan yang Sering Terlupakan
- Pesantren dan Jam'iyah
- Banom dan Regenerasi Lintas Generasi
- Kader Muda dan Pertanyaan “NU Itu Apa bagi Saya?”
- Administrasi sebagai Instrumen Khidmah
Bagian
IV — Bahaya Memisahkan Kultur dan Struktur
- Kultural Tanpa Struktural
- Struktural Tanpa Kultural
- Ketika NU Hanya Menjadi Tradisi
- Ketika NU Hanya Menjadi Birokrasi
- Krisis Regenerasi yang Tidak Terlihat
Bagian
V — Jalan Rekonstruksi
- Menjam'iyahkan Kultur Tanpa Membirokratisasikan Kultur
- Mengembalikan Makna Khidmah
- Membangun Ranting yang Hidup
- Membangun Ekosistem Kaderisasi
- Struktur yang Melayani, Bukan Dilayani
- Manifesto Kader NU Masa Depan
Bagian
VI — Penutup
- NU Masa Depan: Dari Struktur Menuju Peradaban
- Jangan Wariskan Hanya Amaliah, Wariskan Perjuangan
Lampiran
- Biografi Penulis
- Kiprah dan Jejak Pengabdian
- Profil Pemikiran Penulis
- Pedoman Pembenahan Ranting
- Roadmap Kaderisasi Lima Tahun
- Instrumen Evaluasi Ranting
- Daftar Pustaka
PROLOG
Sebuah
Kegelisahan dari Kampung
Ada kalimat yang tampak sederhana tetapi
menyimpan persoalan besar:
“NU itu sudah ada di masyarakat.
Tidak diurus pun tetap jalan.”
Kalimat tersebut tidak sepenuhnya
salah.Bahkan, pada satu sisi, ia menunjukkan betapa kuatnya akar sosial NU.
Ketika struktur tidak hadir,
masyarakat masih menjalankan tradisi.Ketika kantor tidak buka, jamaah masih
berkumpul.
Ketika rapat tidak dilakukan,
yasinan tetap berlangsung. Ketika pengurus berganti, tahlilan
tetap dilaksanakan.
Di sinilah kehebatan kultur NU.
Tetapi justru karena itulah kita
harus berhati-hati.Sebab ada kekeliruan logika yang sering tidak disadari:
amaliah yang tetap berjalan tidak
otomatis membuktikan bahwa organisasi tidak diperlukan.
Seseorang masih bisa makan tanpa
memiliki buku resep.Tetapi bukan berarti buku resep tidak berguna.
Sebuah keluarga masih bisa bertahan
tanpa struktur administrasi yang rumit.
Tetapi organisasi sosial yang besar
membutuhkan sistem agar pelayanan, kaderisasi, aset, pendidikan, dokumentasi,
dan regenerasi dapat berlangsung lintas generasi.
Begitu pula NU. Kultur
NU adalah kekuatan. Struktur NU adalah instrumen. Keduanya bukan musuh.Yang menjadi
masalah adalah ketika salah satunya menganggap dirinya cukup tanpa yang lain.
BAGIAN I
MEMAHAMI DNA NU
BAB
1
NU: TRADISI YANG MENJADI JAM'IYAH
NU tidak lahir dari ruang kosong.
Sebelum berdirinya Nahdlatul Ulama
pada 1926, telah tumbuh berbagai gerakan yang berkaitan dengan ulama dan
pesantren, antara lain Nahdlatul Wathan, Tashwirul Afkar, dan Nahdlatut Tujjar.
Dengan demikian, sejarah NU tidak
dapat dipahami hanya sebagai sejarah berdirinya sebuah organisasi.
Ia adalah sejarah pelembagaan sebuah
ekosistem sosial-keagamaan.
-
Ada
ulama.
-
Ada
pesantren.
-
Ada
santri.
-
Ada
masyarakat.
-
Ada
tradisi keilmuan.
-
Ada
Aswaja.
-
Ada
kebutuhan sosial.
Kemudian semua itu menemukan bentuk
jam'iyah.Karena itu, struktur NU bukan pencipta kultur NU.
Sebaliknya,
struktur NU adalah salah satu bentuk historis untuk mengorganisasi kekuatan
yang telah hidup di tengah masyarakat.
Di sinilah hubungan antara jamaah
dan jam'iyah menjadi sangat penting.
-
Jamaah
adalah kehidupan sosial umat. Jam'iyah adalah organisasi yang
menghimpun dan mengarahkannya.
-
Jamaah
memberikan ruh. Jam'iyah memberikan bentuk.
-
Jamaah
memberikan basis sosial. Jam'iyah memberikan sistem.
Keduanya harus bertemu.
BAB 2
JAM'IYAH DAN JAMAAH: DUA SISI YANG
TIDAK BOLEH DIPISAHKAN
Kesalahan
pertama adalah menganggap jam'iyah lebih penting daripada jamaah.
Kesalahan kedua adalah menganggap
jamaah sudah cukup sehingga jam'iyah tidak diperlukan.
Keduanya sama-sama bermasalah.
Jam'iyah tanpa jamaah akan menjadi
organisasi kosong.
Jamaah tanpa jam'iyah dapat menjadi
kekuatan sosial yang besar tetapi kurang terorganisasi.
Karena itu rumusnya sederhana:
Jam'iyah harus menguatkan jamaah,
dan jamaah harus menghidupkan jam'iyah.
NU harus berada di tengah
masyarakat. Tetapi kehadiran di masyarakat tidak boleh membuat NU
kehilangan sistem.
Sebaliknya, sistem tidak boleh
membuat NU kehilangan masyarakat.
BAB 3
ASWAJA LEBIH LUAS DARIPADA AMALIAH
Tahlilan, yasinan, istighasah,
maulidan, ziarah kubur dan shalawatan memang menjadi ekspresi penting tradisi
Nahdliyyah.
Tetapi Aswaja tidak berhenti pada
amaliah.
Aswaja juga berkaitan dengan:
- aqidah;
- fikih;
- akhlak;
- tasawuf;
- tradisi keilmuan;
- sanad;
- adab;
- dakwah;
- pendidikan;
- hubungan sosial;
- kebangsaan;
- kemaslahatan umat.
Jika Aswaja hanya dipahami sebagai
kumpulan ritual, maka cakupan besar peradaban NU akan menyempit.
Karena itu kader NU tidak cukup
hanya mampu menjawab:
“Apa amaliah NU?”
Kader juga harus mampu menjawab:
“Mengapa NU mengorganisasikan
masyarakat?”
“Mengapa kaderisasi penting?”
“Mengapa pesantren dan organisasi
harus bekerja sama?”
“Mengapa aset harus ditata?”
“Mengapa ranting harus hidup?”
“Mengapa generasi muda harus
dipersiapkan?”
Di situlah Aswaja bertemu dengan
jam'iyah.
BAB 4
MENGAPA NU MEMERLUKAN STRUKTUR?
Organisasi bukan sekadar papan nama.
Struktur diperlukan untuk
sekurang-kurangnya tujuh hal:
1.
Kaderisasi
Siapa yang akan meneruskan NU
setelah generasi sekarang selesai?
2.
Konsolidasi
Bagaimana potensi jamaah yang tersebar
dapat dihimpun?
3.
Pelayanan
Bagaimana kebutuhan masyarakat
diidentifikasi dan dilayani?
4.
Pendidikan
Bagaimana tradisi keilmuan
ditransmisikan?
5.
Pengelolaan aset
Bagaimana tanah, masjid, lembaga
pendidikan, pesantren dan aset jam'iyah dijaga?
6.
Representasi
Bagaimana aspirasi warga NU
disampaikan melalui saluran organisasi yang sah?
7.
Regenerasi
Bagaimana pengalaman satu generasi
diwariskan kepada generasi berikutnya?
Maka, struktur bukan tujuan.
Struktur adalah alat untuk
memastikan khidmah memiliki kesinambungan.
BAB 5
DARI PESANTREN MENUJU ORGANISASI
-
Pesantren
mengajarkan kedalaman. Organisasi mengajarkan pengelolaan.
-
Pesantren
membangun manusia. Organisasi menghubungkan manusia.
-
Pesantren
menjaga sanad.Organisasi memperluas jangkauan.
Karena itu, hubungan pesantren dan
NU tidak seharusnya dibangun dalam pola kompetisi.
Yang dibutuhkan adalah sinergi.
-
Pesantren
membutuhkan jaringan sosial.Organisasi membutuhkan kedalaman ilmu.
-
Pesantren
memberikan kader yang memiliki fondasi keagamaan.Organisasi menyediakan ruang
aktualisasi sosial.
Formula yang ideal:
Pesantren melahirkan manusia
berilmu; jam'iyah mengorganisasikan pengabdian manusia tersebut.
BAGIAN II
FENOMENA KADER NU ANTI-STRUKTURAL
BAB
6
Ada paradoks dalam sejarah NU.
NU secara
organisatoris lahir dari kultur pesantren dan masyarakat yang sudah ada
sebelumnya. Bahkan dalam sebuah wawancara di NU Online, relasi itu digambarkan
secara eksplisit: NU kultural telah hidup jauh sebelum NU sebagai organisasi,
kemudian organisasi dibentuk untuk melengkapinya.
Akibatnya, seorang warga bisa
mengalami NU terlebih dahulu melalui:
- kiai,
- pesantren,
- keluarga,
- masjid,
- tahlilan,
- yasinan,
- shalawatan,
- pengajian,
- haul,
- tradisi kampung,
tanpa pernah bersentuhan dengan
struktur NU.Secara sosiologis, ini menghasilkan
dua sumber legitimasi:
Legitimasi kultural:
“Gus/Kiai ini NU, tradisinya NU, keluarganya NU.”
Legitimasi organisatoris:
“Dia pengurus NU, ada struktur, ada AD/ART, ada mandat, ada program, ada
mekanisme organisasi.”Keduanya tidak selalu bertemu.Dan dari sinilah bisa lahir
persepsi:
“Saya NU meskipun tidak ikut
organisasi NU.”Pada tahap tertentu, itu tidak
bermasalah. Tetapi kalau berkembang menjadi:
“Organisasi NU tidak penting karena
masyarakat sudah NU.”maka kita sudah masuk persoalan yang
berbeda.
“NU TIDAK DIURUS PUN TETAP JALAN”
Kalimat
ini harus dibaca dengan hati-hati. Ada kebenaran di dalamnya. Tetapi
ada juga bahaya di baliknya.
Benar
bahwa kultur NU memiliki kemampuan hidup secara organik. Namun,
organisasi memiliki fungsi yang berbeda dari kultur.
Yasinan tidak membutuhkan SK. Tetapi
kaderisasi membutuhkan sistem.
Tahlilan
tidak membutuhkan struktur kepengurusan. Tetapi pengelolaan aset membutuhkan
legalitas.
Shalawatan dapat berjalan secara
spontan. Tetapi pendidikan kader membutuhkan kurikulum.
Masyarakat dapat berkumpul tanpa
rapat. Tetapi konsolidasi ribuan warga membutuhkan koordinasi.
Jadi: Amaliah
dapat berjalan tanpa instruksi organisasi. Tetapi keberlanjutan peradaban NU
tidak dapat diserahkan hanya kepada spontanitas.
Kalau
dibedah secara sosiologis, saya kira istilah “kader NU anti-struktur”
sebaiknya dipakai sebagai tipologi analitis, bukan label untuk semua
kader yang mengkritik organisasi. Ada perbedaan besar antara anti-birokrasi,
anti-formalisme, dan anti-struktur.
Justru di
sini persoalannya menarik: sebagian orang yang sangat “NU secara kultural” bisa
sekaligus tidak percaya kepada organisasi NU secara struktural. Fenomena
itu punya akar sosial yang cukup masuk akal, tetapi jika dibiarkan menjadi
paradigma, dampaknya terhadap ranting dan kaderisasi bisa serius.
BAB 7
DARI KRITIK BIROKRASI MENUJU
ANTI-STRUKTUR
Tidak semua orang yang tidak
menyukai rapat adalah anti-NU.
Tidak semua orang yang malas
mengurus administrasi adalah anti-struktur.
Bahkan kritik terhadap birokrasi
dapat menjadi tanda sehat.
Yang harus dibedakan adalah:
anti-birokrasi dan anti-organisasi.
Anti-birokrasi berkata:
“Jangan membuat struktur terlalu
rumit.”
Anti-formalisme berkata:
“Jangan ukur kecintaan kepada NU
hanya dari kartu anggota.”
Kulturalis berkata:
“NU harus hadir di masyarakat.”
Semua ini bisa menjadi kritik yang
sehat.
Tetapi anti-struktur berkata:
“Organisasi NU tidak diperlukan.”
Di sinilah persoalannya berubah.
BAB 8
LIMA TIPE KADER ANTI-STRUKTUR
Tipe
Pertama: Anti-Birokrasi
Tidak menyukai administrasi
berlebihan.
Orang ini sebenarnya mencintai NU,
tetapi tidak suka:
- rapat terlalu banyak,
- administrasi berbelit,
- struktur bertingkat,
- seremoni,
- surat-menyurat,
- perebutan posisi.
Dia berkata:“NU itu khidmah, bukan
urusan jabatan.”Ini bukan otomatis anti-struktur.
Bahkan kritik seperti ini bisa sehat
apabila mendorong struktur menjadi lebih efektif.
Solusi: sederhanakan administrasi.
Tipe
Kedua: Anti-Formalitas
Tidak suka organisasi hanya mengejar
jabatan.
Dia mengatakan:“Jangan mengukur
ke-NU-an dari kartu anggota, SK, seragam, atau jabatan.”
Ada dasar
sosial yang kuat untuk pandangan tersebut, karena identitas NU memang lama
berkembang secara kultural melalui pesantren dan masyarakat.
Bahkan diskursus internal NU sendiri
mengakui adanya persoalan formalisasi kaderisasi yang dapat menjauh dari ruh
khidmah. Jadi kritik ini tidak boleh langsung dianggap salah.
Masalah muncul jika: anti-formalisme
→ anti-organisasi.
Solusi: kembalikan organisasi kepada khidmah.
Tipe
Ketiga: Kulturalis
Menganggap NU paling kuat ketika
berada di tengah masyarakat.
Orang ini percaya:“NU itu ada di
masyarakat, bukan di kantor.”
Ini sebenarnya mempunyai dasar kuat. Ada
pandangan di lingkungan NU sendiri bahwa kekuatan NU justru harus dilihat dari MWC,
ranting, dan anak ranting, bukan hanya PBNU atau PWNU.
Masalahnya bukan pada premis
tersebut.Masalahnya muncul kalau:
“Karena NU ada di masyarakat, maka
struktur tidak perlu.” Padahal kesimpulan itu tidak otomatis mengikuti premisnya.
Solusi: jangan menjauhkan struktur dari jamaah.
Tipe
Keempat: Personalis
Lebih percaya kiai atau tokoh
daripada institusi.
Ini lebih kompleks. Kepercayaannya
bukan kepada struktur, tetapi kepada figur:
“Selama ada kiai, masyarakat akan
mengikuti.” Maka organisasi dianggap sekunder.
Ini bisa bekerja sangat baik selama
figur tersebut masih kuat.Tetapi secara sosiologis, ada risiko besar:
figur → kuatorganisasi → lemah
Ketika
figur wafat, pindah, pensiun atau kehilangan pengaruh, jaringan sosial yang
selama ini bergantung pada figur dapat mengalami kekosongan.
Karena itu organisasi sebenarnya
diperlukan untuk mengubah khidmah personal menjadi institusi yang
berkelanjutan.
Solusi: bangun hubungan sehat antara keteladanan tokoh dan
kelembagaan.
Tipe
Kelima: Substantif Anti-Struktur
Menganggap struktur pada dasarnya
tidak diperlukan. Ini yang paling problematis.Cirinya:
“Tidak perlu pengurus.”
“Tidak perlu kaderisasi.”
“Tidak perlu rapat.”
“Tidak perlu ranting.”
“Yang penting masyarakat tetap tahlilan.”
“NU sudah ada di masyarakat tanpa organisasi.”
Di sini struktur tidak lagi dikritik
karena buruk.Struktur itu sendiri dianggap tidak perlu.
Nah, ini yang perlu diwaspadai.
Solusi: tunjukkan manfaat nyata organisasi.
Tipe kelima merupakan persoalan
paling serius.Tetapi jangan buru-buru menyalahkan kader.
Pertanyaan berikutnya harus
diajukan: Mengapa ia sampai tidak percaya kepada struktur?
Mengapa pandangan seperti itu bisa menarik?
Karena struktur NU memang kadang
memberikan pengalaman yang membuat orang kecewa.
Misalnya seseorang melihat:
- rapat panjang tetapi hasil sedikit;
- pengurus berganti tetapi program tidak berubah;
- jabatan lebih menonjol daripada pelayanan;
- kader muda hanya menjadi panitia;
- ranting hanya aktif menjelang konferensi;
- hubungan dengan jamaah tidak kuat;
- kegiatan banyak tetapi tidak menjawab problem warga.
Kemudian dia menyimpulkan: “Lihat?
Tanpa organisasi pun masyarakat tetap berjalan.”
Secara psikologis, kesimpulan
tersebut mudah muncul. Tetapi secara sosiologis ada kesalahan atribusi.
Dia melihat kegagalan struktur
tertentu, lalu menyimpulkan bahwa struktur secara keseluruhan tidak
diperlukan.
Padahal yang mungkin bermasalah
adalah: cara struktur bekerja. Bukan keberadaan struktur itu
sendiri.
Justru NU sendiri pernah mengidentifikasi masalah
struktural seperti itu
Ini
menarik. Dalam
hasil Muktamar NU, pernah dicatat sejumlah persoalan seperti kepemimpinan yang
terlalu sentralistik, lemahnya koordinasi lembaga/lajnah/banom, serta kaderisasi
formal yang belum berjalan baik sehingga banyak bergantung pada kaderisasi
alamiah di pesantren.
Jadi kritik terhadap struktur bukan
sesuatu yang asing dalam NU. Tetapi responsnya bukan:
“hapus struktur.”Melainkan:perbaiki
struktur dan kaderisasinya.
Bahkan
dokumen NU kemudian membedakan beberapa jenis kader: kader struktural, kader
keulamaan, kader penggerak, kader fungsional, dan kader profesional.
Ini menunjukkan bahwa masalahnya justru
dipahami sebagai bagaimana struktur dan kultur kaderisasi dihubungkan,
bukan bagaimana salah satunya dibuang.
Dampak pertama paling serius:
PAC/MWC dan PRNU menjadi “nama”
Mari kita turunkan sampai tingkat
bawah. Bayangkan sebuah desa memiliki:
PRNU secara administratif ada. Ketua
ada.Sekretaris ada. SK ada.Tetapi:
- tidak ada pertemuan jamaah;
- tidak ada kader muda;
- tidak ada program;
- tidak ada hubungan dengan masjid;
- tidak ada komunikasi dengan Muslimat/Fatayat/GP
Ansor/IPNU;
- tidak ada hubungan rutin dengan pesantren;
- tidak ada pemetaan warga.
Secara administratif: ranting
ada. Secara sosiologis: ranting
tidak hadir.
Ini yang
berbahaya. Sebab struktur organisasi seharusnya menjadi jembatan
antara nilai NU dan kehidupan masyarakat, bukan sekadar nomenklatur. NU
sendiri pernah menempatkan ranting dan anak ranting sebagai bagian yang sangat
penting karena di situlah organisasi bersentuhan langsung dengan warga.
Tetapi ada bahaya kebalikannya juga
Jangan sampai kita mengatakan: “Kader
anti-struktur adalah masalah.”Lalu responsnya:“Maka semua orang harus
dimasukkan ke struktur.”Itu juga keliru. Karena kalau setiap kegiatan
kultural dipaksa menjadi kegiatan struktural, NU bisa kehilangan spontanitas
sosialnya. Misalnya
warga ingin mengadakan tahlilan.
Tidak perlu
menunggu: SK PRNU → disposisi MWC → rapat → surat undangan → program kerja.Itu
justru absurd.
Kultural harus tetap punya
spontanitas. Yang perlu dilakukan struktur adalah memperkuat
ekosistemnya, bukan mengambil alih seluruh kehidupan jamaah.
Di sinilah peran PAC/MWC menjadi sangat strategis Kalau kita bicara tingkat kecamatan, MWC/PAC sebenarnya bisa
menjadi jembatan.
Bukan:“Kalian harus mengikuti
program kami.”Tetapi:“Apa yang sudah hidup di masyarakat, mari kita kuatkan.” Misalnya
di 10 desa terdapat:
- 30 kelompok yasinan,
- 15 majelis shalawat,
- 20 TPQ,
- 8 pesantren,
- 10 kelompok pemuda,
- puluhan jamaah masjid.
Jangan dilihat sebagai kegiatan yang
terpisah. Itu adalah ekosistem NU kultural. Tugas
organisasi adalah:
memetakan → menghubungkan → melayani
→ mengembangkan → mengaderkan.
Dampaknya kepada kader muda bahkan lebih besar
Ini mungkin bagian yang paling
penting. Generasi muda tidak selalu otomatis mewarisi identitas NU
hanya karena orang tuanya NU.
Generasi tua bisa berkata: “Dulu
kita semua NU.” Tetapi anak muda bertanya: “NU itu apa bagi saya?”
Kalau jawaban yang mereka dapat
hanya: “NU itu tahlilan.” maka identitas tersebut menjadi
terlalu sempit.
Tetapi kalau PRNU menunjukkan: “NU
punya pesantren, pendidikan, beasiswa, advokasi masyarakat, ekonomi,
lingkungan, literasi digital, kajian keislaman, pengembangan pemuda, dan
tradisi Aswaja,” maka NU menjadi ruang aktualisasi. Karena
itu kaderisasi bukan sekadar mencari orang untuk mengisi jabatan.
Dokumen NU sendiri menempatkan
kaderisasi sebagai proses pembentukan watak, kapasitas, orientasi khidmah,
dan regenerasi kepemimpinan.
Hubungannya dengan pesantren sangat menarik
Pesantren adalah salah satu sumber
terbesar kekuatan kultural NU. Tetapi ada dua kemungkinan.
Model
A
-
Pesantren
kuat.
-
NU
ranting lemah.
-
Kiai
menjadi pusat.
-
Masyarakat
mengikuti kiai.
-
Ketika
kiai aktif → semuanya bergerak.
-
Ketika
kiai tidak aktif → struktur sosial melemah.
Model
B
-
Pesantren
kuat.
-
NU
struktural juga kuat.
-
Kiai
memberikan otoritas keilmuan.
-
NU
memberikan jaringan organisasi.
-
Kader
muda memperoleh pendidikan.
-
Ranting
menjadi ruang pengabdian.
Banom menjadi ruang regenerasi.
Ini jauh lebih berkelanjutan. Bahkan
dalam dokumen NU sendiri, kaderisasi keulamaan diarahkan untuk menyiapkan calon
ulama/Syuriyah di berbagai tingkatan, termasuk lingkungan pesantren dan luar
pesantren. Jadi hubungan pesantren–ranting seharusnya bukan kompetisi,
tetapi ekosistem.
Banom bisa
menjadi korban paling awal
Bayangkan PRNU tidak mempunyai
kultur organisasi yang kuat.
Apa yang terjadi?
-
Ansor
berjalan sendiri.
-
Fatayat
berjalan sendiri.
-
Muslimat
berjalan sendiri.
-
IPNU
berjalan sendiri.
-
IPPNU
berjalan sendiri.
Masing-masing punya massa. Masing-masing
punya kegiatan.
Tetapi tidak ada orkestrasi
generasional.
Padahal secara ideal:
IPNU/IPPNU → pembentukan kader awal
Ansor/Fatayat → penguatan pemuda
NU/Muslimat → penguatan keluarga dan
masyarakat
struktur NU → konsolidasi lintas
generasi
Kalau
struktur induknya lemah, hubungan antarbanom dapat berubah menjadi sekadar koeksistensi,
bukan kaderisasi lintas generasi.
Maka bahaya
terbesar “anti-struktur” sebenarnya bukan hari ini
Ini yang sering tidak terlihat. Hari
ini: tahlilan masih ramai. Besok: masih ramai. Lima
tahun: masih ada. Kemudian orang merasa semuanya
baik-baik saja.
Padahal masalah organisasi bisa baru
terasa 15–20 tahun kemudian.
Sebab kaderisasi memiliki efek
tertunda. NU sendiri pernah menekankan bahwa jika kaderisasi mandek,
dampaknya baru terasa puluhan tahun kemudian. Maka:
Kultural membuat NU bertahan hari
ini.Sedangkan: Kaderisasi
membuat NU bertahan besok.
Ini dua pekerjaan yang berbeda
tetapi saling membutuhkan.
Ada sebuah paradoks yang menurut saya sangat menarik
Kader anti-struktur kadang
mengatakan:
“Saya tidak perlu organisasi karena
saya sudah NU.”
Tetapi identitas “NU” yang dia
warisi itu sendiri merupakan hasil transmisi sosial dari generasi sebelumnya.
Siapa yang menjaga pesantrennya?
Siapa yang mengajar fikihnya?
Siapa yang membangun masjidnya?
Siapa yang mengadakan pengajian?
Siapa yang mencetak kitab?
Siapa yang mengader kiai?
Siapa yang menjaga hubungan
antarpesantren?
Siapa yang mengorganisasi jamaah?
Ada struktur formal dan informal
yang bekerja di belakangnya.
Jadi ada risiko memanfaatkan
hasil organisasi sambil menyangkal fungsi organisasi.
Tetapi struktur
juga harus introspeksi
Ini
penting supaya analisisnya tidak menjadi propaganda struktural. Kalau
struktur NU ingin mengurangi sikap anti-struktur, struktur harus memberi
alasan bagi masyarakat untuk membutuhkan struktur. Bukan
sekadar berkata: “Kalian harus ikut NU.” Tetapi menunjukkan: Dengan
adanya PRNU, persoalan warga bisa lebih mudah diselesaikan.” Misalnya
PRNU membantu:
- pendidikan;
- kematian dan sosial;
- kesehatan;
- ekonomi;
- pertanian;
- advokasi warga;
- pemuda;
- beasiswa;
- penguatan masjid;
- literasi digital;
- pengajian;
- hubungan dengan pesantren.
Maka masyarakat akan melihat:
“Oh, ternyata organisasi ini
berguna.” Bukan sekadar: “Oh, ini orang-orang yang punya
jabatan.”
Ranting bukan unit paling kecil yang remeh
Justru sebaliknya. Secara
sosiologis, ranting adalah tempat pembuktian apakah NU benar-benar menjadi
organisasi masyarakat atau hanya organisasi elite.
Di tingkat PBNU, orang bisa bicara
tentang: visi satu abad NU.
Tetapi di tingkat ranting,
pertanyaannya sangat sederhana:
“Apakah warga merasa NU hadir ketika
mereka membutuhkan?” Kalau jawabannya iya, NU hidup.
Kalau tidak, maka sebesar apa pun
struktur di atasnya, ada persoalan koneksi. Karena itu ada pandangan dalam NU
bahwa kekuatan sebenarnya berada pada struktur bawah—ranting dan anak
ranting—karena di sanalah hubungan langsung dengan umat terjadi.
Jadi bagaimana
seharusnya menghadapi kader “anti-struktur”?
Jangan langsung dilawan dengan
struktur. Itu justru akan memperkuat resistensinya.
Lebih efektif dibedakan:
Kalau
dia anti-birokrasi: perbaiki birokrasi.
Kalau
dia anti-formalisme: jangan menjadikan administrasi
sebagai ukuran tunggal ke-NU-an.
Kalau
dia kulturalis: ajak dia menghubungkan kultur dengan pelayanan jamaah.
Kalau
dia terlalu bergantung pada figur: bangun
kaderisasi dan kelembagaan.
Kalau
dia benar-benar anti-struktur: ajak berdiskusi
tentang keberlanjutan, bukan sekadar jabatan.
Pertanyaan terbaik bukan: “Mengapa
Anda tidak mau ikut struktur?”
Tetapi: “Kalau
struktur tidak diperlukan, bagaimana tradisi ini akan diwariskan kepada
generasi ketiga setelah kita?”
Itu pertanyaan yang jauh lebih sulit
dijawab. Dan di sinilah konsep Aswaja
memberikan jalan tengah
Khittah NU menempatkan NU sebagai jam'iyah
diniyah-ijtima'iyah, dengan ulama sebagai pembimbing organisasi, tetapi
sekaligus menegaskan perlunya kemampuan menyesuaikan diri dengan perubahan yang
membawa kemaslahatan, mengembangkan masyarakat, dan menjunjung ilmu serta
kebersamaan. Jadi struktur NU idealnya bukan: birokrasi
yang mengendalikan masyarakat. Tetapi: organisasi
yang mengabdi kepada jamaah. Dan kultur NU bukan: masyarakat
yang berjalan tanpa organisasi. Tetapi: kekuatan
sosial yang menjadi sumber kehidupan organisasi.
Kalau
dibuat menjadi satu formula
PESANTREN
↓ ilmu, sanad, ulama
KULTUR/JAMAAH
↓ tradisi, solidaritas, amaliah
RANTING/ANAK RANTING
↓ pengorganisasian basis
PAC/MWC
↓ konsolidasi antar-desa
PC/PW/PB
↓ kebijakan, jaringan, sumber daya
BANOM & LEMBAGA
↓ spesialisasi dan kaderisasi
Dan semuanya kembali ke:
JAMAAH → KHIDMAH → KEMASLAHATAN.
Kalau salah satu mata rantai putus,
ekosistem terganggu.
Ini kritik yang harus didengar. Tetapi
jika kritik tersebut berkembang menjadi:
“Karena kultur bisa berjalan tanpa
struktur, maka struktur tidak diperlukan,”
maka terjadi kekeliruan sosiologis. Sebab
fungsi struktur bukan sekadar membuat tahlilan terjadi.
Fungsi struktur adalah mengubah
kekuatan sosial yang tersebar menjadi kemampuan kolektif yang berkelanjutan. Dan
bagi masa depan NU, medan pertarungan sebenarnya bukan PBNU. Bukan
pula gedung PCNU.
Medannya adalah ranting. Karena
di rantinglah pertanyaan paling mendasar dijawab:
Apakah anak muda masih mau menjadi
NU?
Apakah pesantren masih terhubung dengan jamaah?
Apakah banom melahirkan kader untuk NU?
Apakah tradisi Aswaja masih dipahami, bukan sekadar dilakukan?
Apakah masyarakat merasa NU hadir ketika mereka membutuhkan?
Kalau lima pertanyaan itu terjawab,
maka NU kultural dan NU struktural sebenarnya tidak perlu dipertentangkan.
BAB 9
MENGAPA KADER TIDAK PERCAYA KEPADA
STRUKTUR?
Kadang-kadang masalah bukan berada
pada kader.
Masalahnya berada pada pengalaman
kader.
Seorang kader akan bertanya:
“Kalau saya ikut NU, apa yang saya
dapat?”
Bukan selalu uang.
Yang dimaksud bisa berupa:
- ilmu;
- jaringan;
- pengalaman;
- kesempatan mengabdi;
- pendidikan;
- kepemimpinan;
- persaudaraan;
- perlindungan;
- ruang aktualisasi.
Jika organisasi tidak memberikan
itu, kader akan mencari ruang lain.
Maka anti-struktur kadang merupakan gejala
dari struktur yang gagal menghadirkan manfaat.
Ini penting.
Jangan hanya berkata:
“Kader sekarang tidak mau
berorganisasi.”
Tanyakan:
“Apa yang organisasi tawarkan kepada
kader?”
BAB 10
KETIKA FIGUR LEBIH DIPERCAYA
DARIPADA ORGANISASI
Dalam kultur pesantren, penghormatan
kepada kiai adalah kekuatan besar.
Namun organisasi memiliki persoalan
yang berbeda.
Kiai memiliki kharisma.
Organisasi memiliki sistem.
Keduanya tidak perlu
dipertentangkan.
Kiai dapat menjadi sumber
keteladanan.
Organisasi memastikan keteladanan
tersebut diterjemahkan menjadi kerja kolektif.
Bahaya muncul ketika organisasi
sepenuhnya bergantung kepada satu figur.
Ketika figur pergi, organisasi ikut
berhenti.
Maka kaderisasi harus mengubah:
“organisasi karena tokoh”
menjadi:
“organisasi yang berjalan karena
nilai, sistem, kader dan keteladanan tokoh.”
BAB 11
STRUKTUR YANG TIDAK MENGHADIRKAN
MANFAAT
Struktur akan ditinggalkan jika
hanya menghasilkan:
- rapat;
- undangan;
- seremonial;
- foto;
- jabatan;
- proposal;
- pergantian kepengurusan.
Kader membutuhkan pengalaman bahwa
NU hadir untuk mereka dan masyarakat.
Maka ukuran keberhasilan organisasi
bukan:
berapa banyak rapat dilakukan?
Tetapi:
berapa banyak masalah masyarakat
yang dibantu?
Bukan:
berapa banyak SK diterbitkan?
Tetapi:
berapa banyak kader yang tumbuh?
Bukan:
berapa banyak pengurus dilantik?
Tetapi:
berapa banyak pengurus yang bekerja?
BAGIAN III
TITIK RAWAN REGENERASI
BAB 12
RANTING: JANTUNG NU
Jika NU ingin mengetahui apakah
dirinya benar-benar hidup, jangan hanya melihat kantor cabang.
Lihat ranting.
Ranting adalah tempat NU bertemu
dengan:
- jamaah;
- masjid;
- mushala;
- pengajian;
- keluarga;
- pemuda;
- perempuan;
- petani;
- pedagang;
- pekerja;
- pesantren;
- masyarakat desa.
Karena itu ranting bukan sekadar
struktur paling bawah.
Ranting adalah struktur yang paling
dekat dengan realitas kehidupan warga.
Ranting yang hidup tidak harus
memiliki kantor megah.
Ranting yang hidup memiliki:
- jamaah;
- kader;
- kegiatan;
- komunikasi;
- kepedulian;
- pendataan;
- regenerasi;
- pelayanan.
BAB 13
MWCNU: JEMBATAN YANG SERING
TERLUPAKAN
MWCNU memiliki posisi strategis.
Ia menjadi jembatan antara PCNU dan
ranting.
Jika PCNU kuat tetapi MWCNU lemah,
program akan sulit turun.
Jika ranting hidup tetapi MWCNU
tidak mampu mengkoordinasikan, energi akan berjalan sendiri-sendiri.
MWCNU harus menjadi:
pusat konsolidasi, bukan sekadar
tempat pelantikan.
BAB 14
PESANTREN DAN JAM'IYAH
Pesantren adalah sumber daya manusia
NU.
Jam'iyah adalah jaringan pengabdian
NU.
Pesantren tidak harus menjadi kantor
NU.
NU juga tidak boleh mengintervensi
pesantren secara berlebihan.
Yang diperlukan adalah hubungan
saling menguatkan.
Pesantren dapat menjadi:
- pusat pendidikan kader;
- pusat keilmuan;
- pusat dakwah;
- pusat literasi;
- pusat penguatan Aswaja.
Sementara NU dapat membantu:
- jaringan sosial;
- pengorganisasian;
- pelayanan;
- kerja sama;
- pengembangan kelembagaan;
- konektivitas antarlembaga.
BAB 15
BANOM DAN REGENERASI LINTAS GENERASI
Banom tidak boleh berjalan sebagai
pulau-pulau terpisah.
IPNU-IPPNU harus menjadi pintu masuk
generasi pelajar.
GP Ansor menjadi ruang pematangan
pemuda.
Fatayat dan Muslimat memiliki peran
besar dalam penguatan keluarga dan masyarakat.
Banser memiliki fungsi pengabdian
dan sosial yang khas.
Pergunu, ISNU dan badan/lembaga lain
memiliki bidang pengabdian masing-masing.
Semua harus bertemu dalam satu
ekosistem:
Kader hari ini harus mempunyai jalan
menuju tanggung jawab yang lebih besar esok hari.
BAB 16
KADER MUDA DAN PERTANYAAN “NU ITU
APA BAGI SAYA?”
Generasi muda tidak cukup diberi
jawaban:
“NU itu tahlilan.”
Mereka harus melihat NU sebagai:
- ruang belajar;
- ruang pengabdian;
- ruang kepemimpinan;
- ruang jaringan;
- ruang kreativitas;
- ruang kewirausahaan;
- ruang pendidikan;
- ruang kebangsaan;
- ruang membangun masa depan.
Jika NU hanya hadir dalam bentuk
tradisi, generasi digital dapat menganggap NU sebagai masa lalu.
Padahal NU seharusnya menjadi
jembatan antara warisan dan masa depan.
BAB 17
ADMINISTRASI SEBAGAI INSTRUMEN
KHIDMAH
Administrasi sering dibenci. Tetapi
sebenarnya administrasi hanyalah alat.
Administrasi yang buruk memang
merepotkan.
Administrasi yang baik justru
membebaskan organisasi dari kekacauan.
Data anggota membantu kaderisasi.
Dokumentasi membantu sejarah.
Legalitas membantu perlindungan
aset.
Surat-menyurat membantu komunikasi.
Laporan membantu evaluasi.
Maka prinsipnya:
Jangan membirokratisasikan khidmah,
tetapi jangan pula mengkhidmahkan kekacauan.
Administrasi harus sederhana,
efektif dan bermakna.
BAGIAN IV
BAHAYA MEMISAHKAN KULTUR DAN
STRUKTUR
BAB 18
KULTURAL TANPA STRUKTURAL
Bayangkan NU kultural sangat kuat.
Tahlilan ramai.
Masjid aktif.
Pesantren hidup.
Pengajian berkembang.
Tetapi tidak ada kaderisasi.
Tidak ada pendataan.
Tidak ada regenerasi.
Tidak ada pengelolaan aset.
Tidak ada dokumentasi.
Tidak ada sistem pendidikan kader.
Apa yang terjadi?
Tradisi masih hidup.
Tetapi organisasi perlahan
kehilangan kemampuan mewariskan tradisi tersebut secara sadar.
Ini disebut:
ketahanan kultural tanpa ketahanan
institusional.
BAB 19
STRUKTURAL TANPA KULTURAL
Sebaliknya, bayangkan NU memiliki:
- kantor;
- struktur lengkap;
- administrasi rapi;
- banyak rapat;
- banyak surat;
- banyak jabatan.
Tetapi masyarakat tidak mengenal
pengurus.
Tidak ada jamaah.
Tidak ada pengajian.
Tidak ada pelayanan.
Tidak ada hubungan dengan pesantren.
Ini adalah:
struktur tanpa ruh.
Organisasi semacam ini mungkin
terlihat aktif di atas kertas tetapi lemah dalam kehidupan sosial.
BAB 20
KETIKA NU HANYA MENJADI TRADISI
Tradisi dapat bertahan lama. Tetapi
tidak ada jaminan ia otomatis diwariskan dengan baik.
Generasi muda membutuhkan
penjelasan.
Mereka perlu tahu:
Mengapa kita tahlilan?
Mengapa kita menghormati ulama?
Mengapa pesantren penting?
Mengapa Aswaja perlu dijaga?
Mengapa NU memiliki organisasi?
Mengapa kita perlu kader?
Jika semua hanya dijawab:
“Karena dari dulu begitu.”
maka generasi baru dapat kehilangan
hubungan intelektual dengan tradisinya.
Tradisi harus diwariskan dengan
makna.
BAB 21
KETIKA NU HANYA MENJADI BIROKRASI
Kebalikan dari romantisme kultur
adalah penyakit birokrasi.
Organisasi mulai mengukur
keberhasilan dari:
- jumlah kegiatan;
- jumlah foto;
- jumlah rapat;
- jumlah spanduk;
- jumlah pelantikan.
Padahal inti organisasi adalah
perubahan.
Jika masyarakat tidak berubah
menjadi lebih baik, kader tidak berkembang, dan pelayanan tidak meningkat, maka
kegiatan hanya menjadi kegiatan.
NU harus menghindari dua ekstrem:
kulturalisme tanpa organisasi
dan
organisasionalisme tanpa kultur.
BAB 22
KRISIS REGENERASI YANG TIDAK
TERLIHAT
Krisis regenerasi tidak selalu
tampak hari ini.
Hari ini semua masih baik.
Tokoh-tokoh masih ada.
Kiai masih aktif.
Pengajian masih ramai.
Tetapi pertanyaannya:
siapa yang akan mengurusnya 15 tahun
lagi?
Di sinilah pentingnya kaderisasi.
Kaderisasi bukan agenda tambahan.
Kaderisasi adalah cara NU memastikan
masa depan.
BAGIAN V
JALAN REKONSTRUKSI
BAB 23
MENJAM'IYAHKAN KULTUR TANPA
MEMBIROKRATISASIKAN KULTUR
Inilah tesis utama buku ini.
Kultur harus tetap hidup secara
alamiah.
Jangan semua tahlilan harus menunggu
surat.
Jangan semua pengajian harus
menunggu rapat.
Jangan semua kegiatan masyarakat
harus diseragamkan.
Namun struktur harus hadir ketika
diperlukan untuk:
- menguatkan;
- mendata;
- melindungi;
- menghubungkan;
- mengembangkan;
- mewariskan.
Maka:
Menjam'iyahkan kultur bukan berarti
membirokratisasikan kultur.
Organisasi harus menjadi rumah. Bukan
pagar.
BAB 24
MENGEMBALIKAN MAKNA KHIDMAH
Khidmah berarti pengabdian.
Jabatan bukan hadiah.
Jabatan adalah amanah.
Pengurus bukan kelas sosial.
Pengurus adalah pelayan organisasi.
Maka seorang pengurus harus
bertanya:
“Apa yang sudah saya kerjakan untuk
NU?”
bukan:
“Apa yang NU berikan kepada saya?”
Jika mentalitas ini kembali,
anti-struktur akan berkurang.
Sebab kader akan melihat struktur
sebagai jalan pengabdian.
BAB 25
MEMBANGUN RANTING YANG HIDUP
Ranting ideal tidak perlu melakukan
seratus kegiatan.
Cukup mulai dari sepuluh hal:
- memiliki pengurus aktif;
- memiliki kontak pengurus;
- memiliki data jamaah;
- memiliki kegiatan rutin;
- memiliki hubungan dengan masjid/mushala;
- memiliki kader muda;
- terhubung dengan banom;
- memiliki hubungan dengan tokoh agama;
- memiliki agenda sosial;
- melakukan evaluasi rutin.
Ranting yang memiliki sepuluh hal
ini akan lebih mudah berkembang.
BAB 26
MEMBANGUN EKOSISTEM KADERISASI
Kaderisasi tidak boleh hanya berupa
pelatihan.
Kaderisasi harus menjadi perjalanan.
Tahap
pertama:
Kenal NU.
Tahap
kedua:
Kenal Aswaja.
Tahap
ketiga:
Kenal tradisi keilmuan.
Tahap
keempat:
Belajar berorganisasi.
Tahap
kelima:
Diberi tanggung jawab.
Tahap
keenam:
Diberi ruang memimpin.
Tahap
ketujuh:
Membina kader berikutnya.
Inilah siklus regenerasi.
BAB 27
STRUKTUR YANG MELAYANI, BUKAN
DILAYANI
Struktur harus turun.
Pengurus PCNU harus mengetahui
kondisi MWCNU.
MWCNU harus mengetahui kondisi
ranting.
Ranting harus mengetahui kebutuhan
jamaah.
Lembaga harus mengetahui persoalan
bidangnya.
Banom harus mengetahui kebutuhan
kader.
Dengan demikian, organisasi menjadi
jaringan pelayanan.
Bukan piramida kekuasaan.
BAB 28
MANIFESTO KADER NU MASA DEPAN
Kader NU masa depan harus memegang
sekurang-kurangnya sepuluh prinsip:
Pertama
Cinta tradisi, tetapi terbuka
terhadap perubahan.
Kedua
Menghormati kiai, tetapi mampu
bekerja secara sistematis.
Ketiga
Aktif di masyarakat, tetapi tidak
meninggalkan organisasi.
Keempat
Tidak anti-struktur, tetapi kritis
terhadap struktur yang tidak sehat.
Kelima
Tidak mengejar jabatan, tetapi siap
menerima amanah.
Keenam
Mampu mengaji dan mampu
mengorganisasi.
Ketujuh
Mampu berdakwah dan mampu melayani.
Kedelapan
Menguasai tradisi dan teknologi.
Kesembilan
Menghormati generasi tua dan memberi
ruang kepada generasi muda.
Kesepuluh
Menganggap kaderisasi sebagai ibadah
sosial.
BAGIAN VI
PENUTUP
BAB 29
NU MASA DEPAN: DARI STRUKTUR MENUJU
PERADABAN
NU tidak boleh berhenti sebagai
organisasi.
Organisasi hanyalah instrumen.
Tujuan akhirnya adalah kemaslahatan.
Ketika struktur berjalan sehat, ia
dapat menjadi mesin peradaban.
Pesantren menghasilkan ilmu.
Kader menghasilkan kepemimpinan.
Lembaga menghasilkan pelayanan.
Banom menghasilkan regenerasi.
Ranting menghasilkan kedekatan
sosial.
MWCNU menghasilkan konsolidasi.
PCNU menghasilkan koordinasi.
PWNU dan PBNU memberikan arah dan
jejaring yang lebih luas.
Semua harus terhubung.
Itulah jam'iyah.
BAB 30
JANGAN WARISKAN HANYA AMALIAH,
WARISKAN PERJUANGAN
Suatu hari generasi kita akan pergi.
Yang tertinggal bukan jabatan.Bukan
SK. Bukan foto pelantikan. Bukan spanduk.
Yang tertinggal adalah apa yang kita
wariskan.
Jika kita hanya mewariskan amaliah,
generasi berikutnya mungkin akan tetap tahlilan.
Tetapi belum tentu mereka memahami
mengapa tradisi itu harus dijaga.
Jika kita mewariskan ilmu,
kaderisasi, organisasi, tradisi dan nilai, mereka bukan hanya menjalankan. Mereka
akan meneruskan.
Karena itu, jangan hanya berkata:“NU
akan tetap hidup.”
Tanyakan:“Dalam bentuk apa NU
akan hidup?”
Jangan hanya berkata:“Tahlilan
akan tetap ada.”
Tanyakan:“Siapa yang akan menjaga
nilai di balik tahlilan?”
Jangan hanya berkata:“Pesantren
akan tetap ada.”
Tanyakan:“Siapa yang akan
menghubungkan pesantren dengan masyarakat?”
Dan jangan hanya berkata:
“NU tidak perlu diurus.”Sebab organisasi yang tidak diurus mungkin memang tidak
langsung mati.
Tetapi organisasi yang tidak
melakukan kaderisasi dapat kehilangan masa depan tanpa disadari.
Maka kalimat penutup buku ini
sederhana:
NU kultural harus tetap hidup.
NU struktural harus tetap sehat.
Keduanya harus saling menguatkan.
Sebab NU bukan sekadar warisan yang
harus dijaga.
NU adalah amanah yang harus
diteruskan.
EPILOG
Untuk Mereka yang Pernah Berkata “Saya NU, Tapi Tidak Perlu
Organisasi”
Barangkali Anda benar ketika kecewa
kepada organisasi.
Mungkin Anda pernah melihat rapat
yang tidak menghasilkan apa-apa.
Mungkin Anda pernah melihat jabatan
diperebutkan.
Mungkin Anda pernah melihat
administrasi menjadi beban.
Mungkin Anda pernah merasa bahwa
masyarakat lebih hidup daripada kantor NU.
Semua itu bisa menjadi pengalaman
yang valid.
Tetapi jangan biarkan kekecewaan
terhadap praktik organisasi membuat kita kehilangan kebutuhan terhadap
organisasi.
Perbaiki strukturnya.Jangan
tinggalkan perjuangannya.
Kritik organisasinya.Jangan
tinggalkan jamaahnya.
Sederhanakan birokrasinya.Jangan
matikan sistemnya.
Kembalikan struktur kepada fungsi
awalnya: melayani jamaah.
BIOGRAFI PENULIS
M. NASUCHA ABI SYAKUR, ST., MM.
Praktisi organisasi Nahdlatul Ulama,
penggerak kaderisasi, pengelola kelembagaan, dan aktivis pelayanan
sosial-keagamaan.
M. Nasucha Abi Syakur dikenal dalam
lingkungan Nahdlatul Ulama Lampung Tengah sebagai salah satu pengurus yang
bergerak pada wilayah administrasi organisasi, kelembagaan, kaderisasi dan
penguatan pelayanan masyarakat.
Dalam struktur PCNU Lampung Tengah
masa khidmah 2022–2027, nama Muhammad Nasucha Abi Syakur tercatat
sebagai Wakil Sekretaris PCNU Lampung Tengah.
Posisi tersebut memperlihatkan bahwa pengabdian beliau
berada pada wilayah yang sangat dekat dengan tema buku ini: bagaimana struktur
organisasi tidak berhenti pada administrasi, tetapi harus mampu menjadi alat
kaderisasi dan pelayanan.
JEJAK PENGABDIAN DAN KIPRAH
ORGANISASI
1.
Pengabdian di PCNU Lampung Tengah
M. Nasucha
Abi Syakur tercatat dalam struktur PCNU Lampung Tengah periode 2022–2027 sebagai
Wakil Sekretaris.
Posisi
sekretariat memiliki arti penting dalam organisasi NU karena menjadi salah satu
pusat koordinasi administrasi, komunikasi, dokumentasi, dan pengawalan program
organisasi. Namun kiprah beliau tidak hanya tampak dalam daftar kepengurusan.
2.
Penguatan Administrasi dan Organisasi NU
Dalam
kegiatan turba PCNU Lampung Tengah ke MWCNU, M. Nasucha Abi Syakur menyampaikan
pentingnya pengurus NU pada semua tingkatan memahami AD/ART NU hasil
Muktamar ke-34 serta peraturan perkumpulan yang menjadi pedoman organisasi. struktur
harus dipahami agar dapat dijalankan dengan benar. Organisasi
tidak cukup dicintai. Organisasi juga harus dipahami.
3.
Keterlibatan dalam Kaderisasi PD-PKPNU
Kiprah
yang paling dekat dengan tema buku ini adalah keterlibatan M. Nasucha Abi
Syakur dalam proses kaderisasi. Dalam agenda sosialisasi PD-PKPNU PCNU Lampung Tengah, ia
disebut sebagai bagian dari tim yang bersama Admin Siskader NU melakukan
sosialisasi program kaderisasi kepada jajaran MWCNU, banom dan lembaga NU.
Kegiatan tersebut diarahkan untuk
menyiapkan pelaksanaan PD-PKPNU di sejumlah MWCNU Di Kabupaten Lampung Tengah.
Kaderisasi merupakan salah satu
wilayah pengabdian organisasi yang memang dikerjakan.
4.
Penguatan Lembaga Takmir Masjid NU
M. Nasucha Abi Syakur juga tercatat
terlibat dalam pengembangan program Lembaga Takmir Masjid Nahdlatul Ulama
(LTMNU) PCNU Lampung Tengah.
Dalam sebuah kegiatan yang membahas
hukum dan wakaf, ia menyampaikan beberapa capaian program LTMNU Di beberapa Kecamatan, antara lain:
- pendataan masjid dan mushala;
- plangisasi masjid dan mushala NU;
- pelatihan penyembelihan hewan;
- pelatihan pemulasaraan jenazah;
- kegiatan bersih-bersih masjid.
Kiprah ini penting karena
menunjukkan bagaimana organisasi dapat diterjemahkan menjadi pelayanan konkret
di masyarakat.
5 .
KonseptorProgram “Kang Jalal” dan Pelatihan Tukang Jagal Halal
Pada 2025, LTM PCNU Lampung Tengah
menjalankan program Kang Jalal, yaitu pelatihan tukang jagal halal yang
dilaksanakan di beberapa zona wilayah Lampung Tengah.
Struktur
hadir bukan untuk mengatur tradisi masyarakat dari atas, tetapi untuk
memberikan layanan, peningkatan kapasitas dan penguatan kompetensi masyarakat.
6.
Perhatian terhadap Kader Muda
M. Nasucha Abi Syakur juga tercatat
hadir dalam kegiatan PC IPNU-IPPNU Lampung Tengah.
Kehadirannya bersama jajaran
pengurus NU dan kader pelajar menunjukkan keterhubungan antara struktur NU
dengan proses regenerasi generasi muda. Mereka adalah calon pemilik masa
depan jam'iyah.
7.
Keterlibatan dalam Pembinaan GP Ansor
Dalam kegiatan PKD GP Ansor
Kecamatan Selagai Lingga, M. Nasucha Abi Syakur tercatat sebagai salah satu
tokoh NU yang hadir bersama jajaran pengurus dan kader Ansor.
PKD sendiri merupakan bagian dari
proses pendidikan kader kepemimpinan.
Keterlibatan pengurus NU dalam
kegiatan semacam ini memperlihatkan pentingnya kesinambungan antara struktur NU
dan badan otonomnya.
8.
Pengabdian melalui Pendidikan Al-Qur'an
Di tingkat masyarakat, nama M.
Nasucha Abi Syakur juga tercatat sebagai sekretaris TPA Salsabila, Purwosari,
Kecamatan Padang Ratu, Lampung Tengah, untuk periode 2024–2029.
Sebagai ketua
Dan Pelopor TPQ ANNAJAH Sendang agung
sekaligus Penggagas Rumah Belajar untuk Pra Sekolah SD, MI Di Sendang Agung.
Dokumen lain mencantumkan beliau
sebagai sekretaris sekaligus operator TPA tersebut.
Ini memperlihatkan dimensi lain dari
pengabdian: organisasi tidak selalu harus berada dalam gedung NU.
Pengabdian NU juga dapat berlangsung
melalui pendidikan anak-anak di lingkungan masyarakat.
9.
Menulis dan Menyusun Gagasan Pemberdayaan Masjid
Nama M. Nasucha Abi Syakur juga
muncul sebagai penulis buku kecil berjudul:
“Dari Masjidnya Kita Makmurkan
Buminya.”
Tulisan tersebut membahas
pengelolaan dan pemberdayaan masjid serta posisi Lembaga Takmir Masjid NU dalam
pelayanan sosial-keagamaan.
Hal ini memperkuat satu garis
pemikiran:
masjid bukan hanya tempat ibadah,
tetapi juga pusat pemberdayaan masyarakat.
PROFIL PEMIKIRAN PENULIS
Jika seluruh jejak pengabdian
tersebut dibaca sebagai satu kesatuan, tampak beberapa tema yang berulang.
Pertama:
organisasi harus bekerja. Bukan
hanya memiliki struktur.
Kedua:
kaderisasi harus berjalan. Bukan
hanya pelantikan.
Ketiga:
lembaga harus menghasilkan manfaat. Bukan
sekadar nama.
Keempat:
masjid harus diberdayakan. Bukan
sekadar bangunan.
Kelima:
administrasi harus menjadi alat pelayanan. Bukan
tujuan.
Keenam:
generasi muda harus diberi ruang. Bukan
hanya diundang sebagai peserta.
Dari sinilah buku Kader NU
Anti-Struktural menemukan relevansinya.
Buku ini bukan kritik dari luar
organisasi. Ia adalah refleksi dari dalam.
BONUS INDIKATOR
10 PRINSIP PEMBENAHAN RANTING NU
Sebagai hasil praktis buku ini,
setiap ranting dapat menggunakan sepuluh indikator:
- Apakah pengurus masih aktif?
- Apakah jamaah terdata?
- Apakah ada kegiatan rutin?
- Apakah ada kader muda?
- Apakah banom aktif?
- Apakah ranting memiliki hubungan dengan masjid/mushala?
- Apakah ada komunikasi rutin dengan MWCNU?
- Apakah ada program sosial?
- Apakah administrasi dasar tersedia?
- Apakah ada kader yang disiapkan menggantikan pengurus?
Jika jawabannya mayoritas “tidak”,
masalahnya bukan jamaah.
Masalahnya adalah kelembagaan
yang belum berhasil menghubungkan jamaah dengan jam'iyah.
ROADMAP KADERISASI NU LIMA TAHUN
Tahun
Pertama
Pendataan
- data pengurus;
- data jamaah;
- data banom;
- data pesantren;
- data masjid/mushala;
- data kader muda.
Tahun
Kedua
Pendidikan
- Aswaja;
- ke-NU-an;
- organisasi;
- kepemimpinan;
- administrasi;
- literasi digital.
Tahun
Ketiga
Penugasan Kader
mulai diberi tanggung jawab nyata.
Tahun
Keempat
Kepemimpinan Kader
mulai memimpin program.
Tahun
Kelima
Regenerasi Kader
baru mengambil sebagian tanggung jawab generasi sebelumnya.
Dengan demikian: Kaderisasi
bukan mencetak orang untuk mengisi struktur. Kaderisasi adalah menyiapkan
manusia untuk melanjutkan peradaban.
12 CIRI RANTING YANG SEHAT
Ranting sehat biasanya memiliki:
- pengurus yang dikenal masyarakat;
- komunikasi aktif;
- hubungan dengan tokoh agama;
- hubungan dengan banom;
- kegiatan rutin;
- kader muda;
- kegiatan sosial;
- administrasi sederhana;
- pendataan;
- hubungan dengan MWCNU;
- evaluasi;
- regenerasi.
KESIMPULAN BESAR BUKU
Perdebatan antara NU kultural dan NU
struktural sesungguhnya tidak perlu terjadi jika kita memahami DNA NU.
NU bukan hanya struktur. NU
juga bukan hanya kultur. NU adalah pertemuan antara:
ulama + jamaah + tradisi + ilmu + pesantren
+ organisasi + kaderisasi + pelayanan + kebangsaan.
Karena itu: NU
struktural tanpa NU kultural akan kehilangan akar. NU
kultural tanpa NU struktural akan kehilangan sistem.
Dan: NU tanpa
kaderisasi akan kehilangan masa depan.
Maka tugas generasi sekarang bukan
memilih antara kultur atau struktur.
Tugas kita adalah membangun
struktur yang mampu menjaga kultur, dan membangun kultur yang memberi kehidupan
kepada struktur.
Itulah jalan tengah Nahdlatul Ulama.
TENTANG PENULIS
M.
NASUCHA ABI SYAKUR, ST., MM.
Wakil Sekretaris Bidang Organisasi,
Lembaga dan Kader
Praktisi
organisasi dan kaderisasi Nahdlatul Ulama Lampung Tengah. Aktif dalam penguatan
administrasi dan kelembagaan NU, kaderisasi PD-PKPNU, pengembangan Lembaga
Takmir Masjid NU, pelayanan sosial-keagamaan, pembinaan kader muda, serta
pendidikan masyarakat.
Melalui
pengalaman organisasi dan keterlibatannya dalam berbagai program tersebut, ia
menaruh perhatian pada hubungan antara jamaah dan jam'iyah, kultur dan
struktur, kaderisasi dan regenerasi, serta organisasi dan pelayanan masyarakat.
Buku Kader NU Anti-Struktural merupakan refleksi
atas kegelisahan tersebut sekaligus tawaran gagasan agar NU tetap menjadi
organisasi yang berakar pada kultur masyarakat, tetapi tidak kehilangan
kemampuan mengorganisasi, mendidik, melayani dan mewariskan perjuangan kepada
generasi berikutnya.
MOTTO PENULIS
“Jangan menjam'iyahkan kultur sampai
kultur kehilangan spontanitasnya. Tetapi jangan pula membiarkan kultur berjalan
sendirian sampai kita kehilangan kaderisasi, konsolidasi dan kesinambungan.”
MOTTO BUKU
“NU kultural memberikan ruh. NU
struktural memberikan arah. Kader memastikan keduanya tetap hidup.”
EPILOG TERAKHIR
Pada
akhirnya, buku ini bukan tentang siapa yang salah. Bukan
tentang siapa yang struktural.
Bukan tentang siapa yang kultural. Bukan
pula tentang siapa yang lebih NU.
Buku ini tentang satu pertanyaan:
Apakah NU yang kita cintai hari ini
akan tetap mampu menjadi NU yang dibutuhkan masyarakat di masa depan?
Jawabannya bergantung pada apa yang
kita lakukan hari ini.
Jika hari ini kita hanya menjaga
amaliah, mungkin amaliah akan tetap hidup.
Jika hari ini kita hanya menjaga
struktur, mungkin struktur akan tetap berdiri.
Tetapi jika hari ini kita menjaga:
ilmu, tradisi, jamaah, jam'iyah,
kaderisasi, pesantren, lembaga, banom, ranting dan pelayanan,
maka kita bukan sekadar menjaga NU. Kita
sedang menyiapkan peradaban.
Dan kepada generasi setelah kita,
kita ingin meninggalkan pesan:
Jangan hanya menjadi pewaris nama
NU.
Jadilah penerus perjuangan NU.Jangan
hanya mengenal amaliahnya.
Pahami nilai dan sejarahnya.Jangan
hanya mengkritik strukturnya.
Perbaikilah strukturnya.Jangan hanya
mencintai NU sebagai tradisi.
Cintailah NU sebagai amanah.
Karena pada akhirnya:
NU bukan milik generasi kita.Kita
hanya sedang memegang amanahnya.
Dan
tugas setiap kader adalah menyerahkan amanah itu kepada generasi berikutnya
dalam keadaan lebih kuat daripada ketika ia menerimanya.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Sumber
rujukan utama NU ONLINE LAMTENG
- Struktur PCNU Lampung Tengah masa khidmah 2022–2027 dan
posisi Muhammad Nasucha Abi Syakur sebagai Wakil Sekretaris.
- Pembinaan administrasi/organisasi MWCNU serta penekanan
pada AD/ART dan Perkum NU.
- Sosialisasi dan pelaksanaan PD-PKPNU serta keterlibatan
dalam tim Siskader.
- Program LTMNU, pendataan masjid/mushala dan berbagai
pelayanan keagamaan.
- Program pelatihan tukang jagal halal “Kang Jalal”.
- Kegiatan IPNU-IPPNU dan keterlibatan dalam pembinaan
generasi muda NU.
- TPA Salsabila Purwosari dan posisi M. Nasucha Abi
Syakur sebagai sekretaris.
- Ketua TPQ
ANNAJAH SENDANG AGUNG
- Penggagas
Rumah Belajar ANNAJAH

Tidak ada komentar:
Posting Komentar